Tuesday, 21 August 2012

Meditasi dalam Pandangan Islam



Meditasi adalah sistem oleh tubuh mental untuk mengembangkan konsentrasi dan kebijaksaan. Bagaimana pandangan Islam terhadap meditasi tersebut? 

Sebagian muslim menanggap meditasi sebagai sesuatu yang haram dilakukan oleh umat Islam dengan alasan bahwa meditasi merupakan ajaran agama lain, yaitu ajaran Hindu dan Budha. Dan menurut mereka, suatu praktik, ritual, atau ibadah agama lain tidak boleh diterapkan di dalam Islam. Berdasarkan hadits berikut : 

Kutip
Dari Abu Waqid al Laitsi, beliau berkata:
"Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam ke Hunain dan kami baru saja keluar dari kekafiran. Kaum musyrikin mempunyai pohon yang mereka tinggal di sekitarnya dan mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon itu, dinamai Dzaatu Anwaath. Maka kami melewati pohon itu, lalu kami katakan, `Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzaatu Anwaath sebagaimana Dzaatu Anwaath punya mereka.`

Lalu berkata Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam : "Allahu Akbar, demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, sungguh kalian telah berkata seperti Bani Israil telah berkata kepada Musa : "... buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)."
Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui."

Faktor yang sama yang mereka perhatikan antara kaum musa dengan meditasi adalah “kehendak untuk melakukan tradisi selain islam”. Dalam hadits tersebut terdapat Dzaatu Anwaats dan Berhala. Kedua hal tersebut disamakan dengan meditasi. Tapi mengapa rasulullah tidak mengabulkan permintaan untuk membuat Dzaatu Anwaats, dan mengapa kehendak umat nabi musa untuk dibuatkan berhala termasuk perbuatan tercela? Apakah karena faktor hal itu merupakan tradisi agama lain ataukah karena hal itu mengandung unsur kemusyrikan? Sesungguhnya hal tersebut disebabkan terkandung unsur kemusyrikan di dalamnya. Dalam bahasa lain, kemusyrikan ini berarti kebodohan spiritual. 

Untuk apa kaum nabi musa meminta dibuatkan berhala? Jika untuk disembah, maka tentu itu perbuatan bodoh. Sebab tak patut benda mati seperti berhala disembah, ia tak dapat memberi kemanfaatn apapun. Unsur kebodohan inilah yang tercela, dan bukan karena hal itu merupakan “ritual agama lain”. 

Untuk apa sebagian mualaf meminta dibuatkan pohon Dzaatu Anwats? Jika hal tersebut berhubungan dengan kepercayaan mistis yang bodoh, maka kebodohan itulah yang tercela, dan bukan karena menggantungkan senjata di pohon tersebut merupakan ritual agama lain. 

Berbeda halnya dengan meditasi, tidak terkandung di dalamnya unsur kebodohan spiritual. Jika meditasi adalah suatu cara mengembangkan konsentrasi, maka meditasi merupakan bagian dari agama Islam. Kenapa, karena konsentrasi merupakan hal yang vital dalam agama Islam. Tanpa daya konsentrasi yang baik, maka seseorang itu dianggap tidak beragama dengan benar. Sebagaimana firman Allah : 

Kutip
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,()(yaitu) orang-orang yang sahun dari shalatnya,() (Q.S 107:4-5)

Sahun disitu merupakan lawan kata dari khusyu. Inilah pengertian yang saya fahami dari kalimat tersebut. Jadi, kita tahu bahwa konsentrasi merupakan hal yang begitu penting di dalam shalat. Sedangkan shalat merupakan tiang agama. Jika tiangnya rapuh, tentu agamanya pun rapuh. 

Karena pentingnya konsentrasi, maka muslim harus belajar untuk mengembangkan konsentrasi dengan berbagai cara yang baik.  Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh seorang muslim adalah dengan cara berlatih meditasi. Tentu sebagian orang tidak senang dengan cara tersebut karena menganggap itu ibadah agama orang lain dan dengan melakukan hal tersebut seolah-olah Islam merupakan agama yang tidak sempurna. Apakah dalam alQuran atau Hadits dijelaskan cara-cara yang sistematis untuk mengembangkan konsentrasi sehingga tidak perlu lagi mempelajari suatu teknik dari kitab agama lain? Jika memang ada, maka bagaimanakah caranya? Siapa ulama yang bisa menjelaskan cara sistematis mengembangkan konsentrasi menurut alQuran dan Hadits?

Selain itu perlu pula diperhatikan ayat berikut : 
Kutip
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur`an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu. (Q.S 5:68)

Bukankah dalam ayat tersebut sangat jelas, bahwa Islam tidak hanya menganjurkan manusia untuk mengamalkan alQuran saja, melainkan juga taurat dan injil? Tidak ada larangan membaca ajaran Taurat dan  mengamalkan ajarannya, justru dianjurkan. Tidak ada larangan membaca kitab injil dan mengamalkannya, justru dianjurkan. Demikian pula di dalam alQuran dan di dalam Hadits, tidak ada larangan untuk membaca kitab Veda dan Tipitaka, dan tidak terdapat larangan untuk mengamalkan ajarannya. 

Dari mana saya memiliki penafsiran seperti itu. Itulah hal yang dapat saya fahami dari ayat tersebut, secara semantic. Jika penafsiran tersebut keliru, maka silahkan para ahli tafsir menjelaskan bagaimana tafsirannya yang benar, tanpa perlu menuduh saya telah "mengarang" atau "mendustakan ayat alquran" sebagai menafsirkan ayat alQuran secara semantik adalah benar.  

Tetapi sebagian muslim berpendapat bahwa semua simbol-simbol agama orang lain tidak boleh diterapkan atau digunakan dalam Islam. Seperti yang dikisahkan oleh hadits berikut : 

Kutip dari: mushab bin umair
Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi dan At-Thabrani bahwa Adi bin Hatim yang baru masuk Islam dan masih memakai kalung salib datang kepada Rasulullah saw dan Rasulullah saw. memerintahkan untuk melepaskannya (kalung salib tersebut).

Note :
Hadits di atas menunjukkan tidak diperbolehkannya simbol2 agama dan kepercayaan lain untuk dipakai oleh orang Islam.

Hadits tersebut tidak berarti “semua simbol agama lain” tidak boleh digunakan. Seseorang yang menyimpulkan “semua simbol agama lain tidak boleh digunakan” telah menyimpulkan secara salah. Dalam hadits tersebut yang dilarang adalah mengenakan kalung salib. Dan itu tidak berarti “semua simbol agama lain”. Sungguh mengherankan bila dari hadits tersebut disimpulkan menjadi “semua simbol agama lain”. Bagaimana proses penyimpulannya? Bagaimana kerangka berpikirnya? Bagaimana aturan penyimpulan yang mereka gunakan. 

Kutip
Jika begitu, narkoba tidak dilarang. Karena yang dilarang adalah khamar?

Persoalan tersebut lain masalah dengan persoalan “simbol agama” dan “meditasi”. Faktor yang dianggap sama adalah “sesuatu yang tidak dilarang secara langsung oleh rasulullah, karena rasulullah tidak menggunakan istilah tersebut”. Dalam kasus kalung salib, tidak ada dasar untuk menyimpulkan menjadi “semua simbol agama lain”. Sedangkan dalam kasus narkoba, ada dasar untuk menyimpulkan “semua yang memabukan adalah haram”. Kasus-kasus ini perlu difahami baik persamaan dan perbedaan secara tepat, cermat dan jernih. 

Narkoba memang tidak dilarang. Tapi jika narkoba termasuk kepada khamar, maka itu dilarang sebagaimana yang telah diketahui oleh muslimin tentang adanya hadits yang melarang meminum khamar. 

Jika narkoba tidak termasuk khamar, tapi memabukan, maka tetap haram, karena membuat seseorang lalai dalam shalat. [/quote] Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,()(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,() (Q.S 107:4-5)[/quote]

Seandainya ada hadis yang menyatakan bahwa “semua yang membaukan itu haram”, maka tentu ini juga menjadi dasar yang tepat untuk menyimpulkan narkoba itu haram. Tetapi dalam persoalan kalung salib tidak bisa dan tidak boleh disimpulan menjadi “semua simbol agama lain”. Mereka yang tetap menyimpulkan seperti ini tanpa dasar-dasar pemikiran yang jelas itu namanya “malah berpikir” atau “malas menyelidiki”, terikat dengan keyakinan yang salah. 

Dengan demikian, semua dalil-dalil yang mengharamkan meditasi telah terbantah. Siapa yang tetap mengharamkannya, maka ia berdusta atas nama agama, Allah dan Rasulnya, kecuali bila mereka memiliki dalil-dalil benar sekali lagi, kecuali bila memiliki dalil yang benar

selama belum ada dalil yang kuat untuk "mengharamkannya", maka bagi para penggiat yang menekuni meditasi tidaklah perlu ragu dan sungkan, karena hal tersebut “halal” secara agama yang kita yakini, yaitu Islam.

Sumber : http://myquran.org

6 comments:

  1. Bukannya asal muasal khamar dilarang adalah karena pada suatu ketika ada sahabat Rasulullah SAW yang menjadi imam dalam keadaan mabuk, pada saat itu yang memabukkan adalah khamar. Makanya turun ayat tidak boleh mengkonsumsi sesuatu yang memabukkan. Sehingga banyak juga yang mengartikan khamar sebagai minuman yang memabukkan. Pada dasarnya islam tidak mengizinkan pengikutnya untuk kehilangan kesadaran (mabuk).

    ReplyDelete
  2. mohon maaf, saya ingin mengkoreksi bagian "Bukankah dalam ayat tersebut sangat jelas, bahwa Islam tidak hanya menganjurkan manusia untuk mengamalkan alQuran saja, melainkan juga taurat dan injil?", anda berpendapat demikian berdasarkan "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur`an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu"
    mohon maaf, tapi ahli kitab dalam Alquran itu adalah sebutan untuk para pemuka agama nasrani dan yahudi, bukan kita sebagai orang islam sekarang ini.
    mohon maaf jika terdapat kesalahan. mohon tanggapannya.
    terima kasih

    ReplyDelete
  3. Mohon maaf sebelumnya, saya bukan seorang muslim akan tetapi saya setuju dengan pendapat anda. Menurut saya meditasi adalah salah satu teknik untuk melemaskan syaraf syaraf kita dan melepaskan segala bentuk pikiran negatif yang berada di dalam kepala kita supaya hati kita menjadi tenang. Hanya saja teknik ini berkembang pada era hindu dan buddha sehingga seringkali kita takut mempraktikkan teknik ini karena adanya unsur agama selain yang kita anut. Pada dasarnya semua teknik meditasi bertujuan untuk melemaskan pikiran yang tegang dan kemudian diarahkan untuk konsentrasi pada suatu objek entah itu nafas kita sendiri atau suatu kata atau kalimat yang dilafal berulang-ulang. Perbedaan nya biasa nya hanya pada kata atau kalimat yang digunakan. Saya pribadi sering mempraktikkan teknik meditasi ketika badan saya sakit dengan melafal kata "sehat" berulang-ulang untuk membentuk sugesti pribadi supaya esok hari nya badan saya benar benar sehat. Jadi sebenarnya teknik meditasi itu sifatnya alamiah dan fleksibel tidak terkait dengan agama apa pun. Kebanyakan org muslim terlalu dini memutuskan bahwa meditasi bertentangan dengan agama karena mereka tidak mengerti apa itu meditasi. Karena di budaya kita seringkali meditasi itu dikaitkan dengan ritual-ritual yang memang bertentangan dengan agama seperti ritual cari kekayaan dll. Akan tetapi pada dasarnya meditasi itu hanyalah suatu teknik untuk mengarahkan konsentrasi kepada hal-hal yang ingin kita kuatkan di dalam pikiran kita tidak lebih dari itu. Jadi menurut saya meditasi tidak bertentangan dengan agama apa pun yang kita anut. Terima kasih.

    ReplyDelete
  4. saya agak kurang stuju tntang salib disini...apakah seorang islam jika memakai kalung salib akan dikatakan islam? atau seorang non muslim memakai kalung berbandul ka'bah akan dikatakan juga muslim?

    ReplyDelete
  5. Menurut saya, sepanjang tujuannya adalah untuk menguatkan konsentrasi dan kesadaran serta tidak ada maksud mempersekutukan Allah OK aja, mengapa ? Shalat itu harus di kerjakan dgn penuh kesadaran, sadar betul kalau kita sedang sshalat juga harus konsen (tdk mikirin yg lain )

    ReplyDelete
  6. saya sangat senang sekali dengan yoga astanga, dan meditasi... saya kira meditasi itu sangat bagus sekali untuk meningkatkan daya konsentrasi dan ketenangan pikiran dan bathin. memang ada beberapa keyakinan yg melarang meditasi... tetapi selama kita tidak mencapur adukan agama satu dan yg lain dlm meditasi.. maka sy hanya menganggap itu sebagai media dan bukan mempersekutukan Tuhan. klo orang islam mungkin bisa bermeditasi dengan dzikir, klo hindu dengan matra dll...

    ReplyDelete

Meditation Chakra

Protection Meditation

Jual / Sewa Mesin Fotocopy Terbaru