MEMPERGUNAKAN OBAT TIDAK MENAFIKAN TAWAKAL KEPADA ALLAH



Apa pandangan Islam dalam menggunakan obat? Apakah penggunannya menyalahi tawakal kepada Allah?

Alhamdulillah
Pertama: Berobat dianjurkan secara umum.
Dari Abu Darda radhiallahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obat, maka berobatlah. Tapi jangan berobat dengan yang haram."
(HR. Thabrani dalam Mu’jamul Kabir, 24/254. Hadits dishahihkan oleh Syekh Al-Albany dalam As-Silsilah As-Shahihah, no. 1633)
Dari Usama bin Syuraik radhiallahu anhu berkata, orang-orang Badui bertanya,
"Wahai Rasulullah tidakkah kita berobat? Beliau menjawab, ‘Ya. Berobatlah wahai hamba Allah. Karena sesunggunya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali (Dia) memberikan kesembuhan, kecuali satu penyakit. Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah apa itu?' beliau menjawab, "Tua renta."
(HR. Tirmizi, no. 2038, beliau berkomentar, hasan Shahih, Abu Daud, no. 3855 dan Ibnu Majah, no. 3436)
Kedua: Berobat tidak menafikan tawakal.
Ibnu Qayim rahimahullah berkata;
"Dalam hadits yang shahih ada perintah berobat. Hal itu tidak menafikan tawakal. Sebagaimana mencegah lapar, haus, panas, dingin dan semisalnya dianggap tidak menafikan hal tersebut. Bahkan tidak sempurna hakikat tauhid kecuali dengan melakukan sebab yang telah Allah tetapkan dalam kandungan akibatnya, baik secara takdir maupun secara agama. Mengabaikannya termasuk merusak ketawakalan itu sendiri, sebagaimana hal tersebut juga mengabaikan  perintah dan hikmahnya. Bahkan hal tersebut juga lemah dari sudut pandang orang yang melalaikannya dan beranggapan bahwa meninggalkan usaha itu lebih kuat dalam bertawakal. Karena sesungghunya meninggalkannya merupakan  kelemahan yang dapat meniadakan tawakal. Sebab pada hakikatnya, tawakkal  adalah bersandarnya hati kepada Allah agar seorang hamba mendapatkan apa yang bermanfaat untuk agama dan dunianya dan mencegah apa yang mencelakakan agama dan dunianya. Sikap ini mengharuskan upaya melakukan sebab. Kalau tidak, maka termasuk kelalaian, baik dari sisi hikmah maupun agama. Janganlah seorang hamba menjadikan kelemahannya sebagai bentuk tawakal dan ketawakalannya sebagai alasannya untuk lemah." (Zadul Ma’ad, 4/15)
Wallahu’alam .

Syarat-Syarat Meruqyah



Sekarang ini pembacaan Al-Qur'an untuk meruqyah banyak sekali diperdebatkan. Sebagian orang berkata: "Tidak boleh meruqyah dengan membacakan Al-Qur'an kecuali seorang ahli ilmu syar'i." Sebagian lainnya berkata: "Boleh dilakukan oleh siapa saja yang hafal Al-Qur'an, lurus aqidahnya, termasuk orang baik-baik dan bertakwa. Mohon kiranya Anda sudi menjelaskan masalah ini dan hukum Syar'i yang berkaitan dengannya.
Yang benar adalah ruqyah ini boleh dilakukan oleh setiap orang yang bisa membaca Al-Qur'an dengan bagus, memahami maknanya, lurus aqidahnya, baik amalannya dan luhur akhlaknya. Tidak mesti harus mengetahui masalah-masalah parsial dan tidak pula harus menyelami disiplin-disiplin ilmu lainnya. Berdasarkan kisah Abu Sa'id Al-Khudri yang meruqyah orang yang tersengat kalajengking, orang-orang berkata: "Sebelumnya kami tidak tahu kalau beliau bisa meruqyah." Atau sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat Al-Bukhari (No:2276) dan Muslim (No:2201). Hendaklah orang yang meruqyah meluruskan niatnya, yaitu menolong saudaranya sesama muslim, bukan karena ingin mendapat harta dan imbalan. Supaya Al-Qur'an yang dibacakannya saat meruqyah dapat memberi kesembuhan. Wallahu a'lam

Meminta Kesembuhan dari Air Logam dan Menyembelih Kambing Di Dekatnya



Di selatan Yordania terdapat "air logam" yang dikenal sebagai "sumur Sulaiman bin Dawud". Banyak orang yang pergi ke sana untuk mandi dan meminta kesembuhan dengan membawa kambing lalu disembelih di tempat itu ketika sampai. Apa hukum menyembelih hewan seperti itu?
Al-Hamdulillah. Apabila air itu secara alami memang berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, maka tidaklah mengapa. Karena Allah menjadikan sebagaian jenis air berguna menyembuhkan beberapa jenis penyakit. Yakni apabila hal itu diketahui melalui penelitian, bahwa air itu ternyata berkhasiat bagi orang punya beberapa penyakit tertentu, seperti rematik dan yang lainnya. Boleh-boleh saja . Adapun sembelihan tersebut, haruslah dirinci:
Kalau hewan-hewan tersebut disembelih karena kebutuhan mereka untuk makan dan sejenisnya, atau karena mereka adalah para menerima banyak tamu, maka tidaklah mengapa. Tapi kalau karena tujuan lain, seperti untuk mendekatkan diri kepada air tersebut, kepada jin atau kepada arwah para nabi, atau berbagai keyakinan rusak lainnya, maka itu tidak boleh. Karena Allah berfirman kepada Nabi-Nya:
"Katakanlah:"Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupki dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya;dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (Q.S Al-An'aam : 162-163)
Allah juga berfirman:
"Sungguh Kami telah mengaruniai kepadamu karunia yang besar (Al-Kautsar). Maka shalat dan menyembelihlah untuk Rabb-mu." (Q.S Al-Kautsar : 1)
Menyembelih dan ibadah kurban harus ditujukan kepada Allah semata. Demikian juga dengan berbagai bentuk ibadah lainnya. Tidak dibolehkan menyimpangkan salah satupun dari bentuk ibadah kepada selain Allah, berdasarkan firman-Nya:
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Q.S Al-Bayyinah : 5)
Demikian juga dengan firman-Nya:
"Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). " (Q.S Az-Zumar : 2-3)
Demikian juga berdasarkan ayat-ayat terdahulu dan yang senada dengannya, di samping juga sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah."
(Dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Ali Radhiallahu 'anhu).
Maka seseorang tidak boleh menyembelih untuk jin Fulan atau bintang dan benda langit Fulan, atau air Fulan, atau Nabi Fulan, atau untuk siapapun juga, termasuk kepada berhala-berhala. Karena mendekatkan diri itu hanya kepada Allah, dengan sembelihan dan shalat serta seluruh jenis ibadah lainnya. Berdasarkan firman Allah:
"Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.." (Q.S Al-Fatihah : 5)
Dan beberapa ayat tersebut di atas:
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Q.S Al-Bayyinah : 5)
"Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). " (Q.S Az-Zumar : 2-3)
dan ayat-ayat lainnya.
Menyembelih termasuk ibadah terpenting dan cara mendekatkan diri kepada Allah yang paling mulia, sehingga harus ikhlas dilakukan hanya kepada-Nya berdasarkan ayat-ayat tersebut dan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terdahulu.

(Sumber : islamhouse.com)



Membaca Al-Qur'an Beramai-Ramai Untuk Seorang Yang Sakit



Bolehkah dibacakan Al-Qur'an beramai-ramai (lebih dari satu orang pembaca) untuk seorang yang sedang sakit?

Tidak ada halangan mengulang-ulang bacaan Al-Qur'an bagi seorang yang sakit serta dibacakan beramai-ramai secara serempak untuk seorang yang sakit. Sebab Al-Qur'an adalah Kalam ilahi yang telah dijadikan oleh-Nya sebagai obat penawar bagi seluruh penyakit yang ada dalam hati.

Bolehkah Bagi Laki-Laki Yang Meruqyah Menyentuh Wanita Yang Diruqyahnya?



Sebagaimana yang Anda ketahui bahwa sebagian orang menderita berbagai macam penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara medis. Kemudian mereka mencari pengobatan melalui Kitabullah dan meminta kepada ahli ilmu, para penghafal Al-Qur'an serta orang-orang takwa dan shalih untuk meruqyah mereka dengan ruqyah yang dibenarkan syariat. Kadang kala anggota tubuh yang sakit pada kaum wanita adalah bagian kepala, dada, tangan atau kaki mereka. Bolehkah menampakkan bagian tubuh yang sakit tersebut untuk diruqyah dalam kondisi darurat? Dan apakah batasan aurat bagi kaum wanita saat diruqyah?

Perlu diketahui bahwa mengajarkan ruqyah yang dibenarkan syariat termasuk perkara yang disunnahkan, dengan harapan dapat berguna bagi kaum muslimin, sekaligus sebagai pengobatan bagi penyakit-penyakit kronis tersebut. Sebab Kitabullah merupakan obat yang ampuh dan mujarab. Akan tetapi kaum lelaki tidak boleh menyentuh tubuh wanita yang bukan mahramnya saat meruqyah. Dan si wanita juga tidak boleh sama sekali menampakkan bagian tubuhnya, seperti dada, leher dan lain-lain. Hendaknya si wanita tetap diruqyah meskipun dalam keadaan memakai hijab. Cara seperti itu juga berfaedah. Para akhwat (kaum wanita) dianjurkan mempelajari bacaan-bacaan ruqyah, dengan harapan agar mereka dapat mengobati kaum wanita yang menderita sakit melalui ruqyah tersebut. Wallahu a'lam.

Hukum Memakai Perhiasan Emas Dan Perak Bagi Wanita


Syaikh Shalih bin Abdullah al-Fauzan ditanya:
Jawaban: Wanita boleh memakai perhiasan emas dan perak menurut kebiasaan (adat istiadat) yang berlaku, dan ini adalah ijma’ semua ulama. Akan tetapi ia tidak boleh menampakkan perhiasannya di hadapan laki-laki yang bukan mahram, bahkan ia harus menutupinya terutama sekali saat ia keluar dari rumah dan menghadapi pandangan laki-laki karena hal itu bisa menjadi fitnah. Ia dilarang memperdengarkan kepada laki-laki suara perhiasannya yang ada di kakinya di bawah pakaiannya, maka bagaimana dengan perhiasan luar.[1]



[1] Tanbihaat ‘ala ahkam takhtashshu bil mukminat hal 12


Mu’jizat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam


Segala puji bagi Allah, kami memuji, memohon pertolongan, meminta petunjuk, dan ampunan hanya kepada -Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dari segala kejahatan prilaku dan perbuatan kami. Barangsiapa yang diberikan petunjuk maka tiada seorangpun yang mampu menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan tiada seorangpun yang mampu memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla, Yang Maha Esa dan tiadak sekutu bagi -Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya. Hamba pilihan dan kekasih -Nya.
Wahai sekalian hamba Allah Shubhanahu wa ta’alla. Aku berwasiat kepada diriku sendidi dan kepada kalian semua agar selalu bertqwa kepada Allah Yang Maha Tinggi. Allah Ta’ala berfirman:  
قال الله تعالى: ﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ١٨ [الحشر: 18] 

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.Al Hasyr : 18)
                Wahai sekalian hamba Allah! Allah Ta’ala telah mengutus Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam untuk memberikan petunjuk kepada manusia  pada jalan kebenaran, agar manusia selamat dari kesesetan, bebas dari kebutaan, menyelamatkan manusia dari neraka, dan Allah mengutus beliau untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya Al-Qur’an yang agung.
                Wahai sekalian hamba Allah! Setiap Nabi memiliki mu’jizat yang diperuntukkan bagi kaumnya masing-masing. Nabi Musa alihis salam diberikan sebuah tongkat, Nabi Isa alaihis salam diberikan kemampuan menyembuhkan orang yang terkena penyakit kusta dan belang serta menghidupakn orang yang sudah mati, memberikan kesembuhan bagi orang yang berpenyakit, Nabi Soleh alaihis salam diberikan seekor unta betina…begitu juga dengan para Nabi dan Rasul lainnya….
                Dan kita melihat bahwa mu’jizat setiap Nabi terputus dengan kematian Nabi tersebut atau umatnya. Akan tetapi Allah Ta’ala telah memberikan Mu’jizat yang abadi kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, mu’jizat ini selalu relevan hingga hari kiamat kelak. Itulah Al-Qur’an yang mulia, di mana Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: ﴿ قُل لَّئِنِ ٱجۡتَمَعَتِ ٱلۡإِنسُ وَٱلۡجِنُّ عَلَىٰٓ أَن يَأۡتُواْ بِمِثۡلِ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ لَا يَأۡتُونَ بِمِثۡلِهِۦ وَلَوۡ كَانَ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٖ ظَهِيرٗا [الإسراء: 88] 

Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". (QS. Al-Isro’: 88).
Bahkan Allah Ta’ala menantang jin dan manusia agar mereka mendatngkan satu surat tandingan yang menyamai salah satu surat Al-Qur’an yang mulia:
قال الله تعالى: ﴿ وَإِن كُنتُمۡ فِي رَيۡبٖ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا فَأۡتُواْ بِسُورَةٖ مِّن مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُواْ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٢٣ فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ وَلَن تَفۡعَلُواْ فَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِي وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُۖ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ ﴾ [البقرة: 23-24] 

‘Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah[31] satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
24.  Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir’. (QS. Al-Baqarah: 23-24).
Demikaianlah, tantangan ini akan tetap berlaku sampai Allah mewariskan bumi beserta seluruh isinya, di mana tiada seorangpun yang mampu menjawab tantangan tersebut walau seberapapun tingkat kepandaian mereka dalam berbahasa dan menguasai sastra, walaupun mereka saling menopang dalam membuat tandingan tersebut.
                Di antara mu’jizat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah peristiwa bertambahnya makanan. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu berkata: Abdullah bin Amru bin Haram meninggal dunia dengan meninggalkan hutang piutang. Maka akupun meminta tolong kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam agar orang-orang yang memberikan hutang kepadanya menggugurkan hutang piutangnya. Maka Nabipun memohon kepada para pemberi hutang agar mereka menghapuskan hutang tersebut namun mereka semua enggan melakukannya. Maka Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadaku: Pergilah, dan bagilah kurma yang engkau miliki menjadi beberapa bagian. Kurma Ajwa dikumpulkan dalam kelompok tersendiri dan kurma milik Zaid dikumpulkan dalam kelompok yang lain lalu bawalah kurma tersebut kepadaku. Maka akupun menjalankan perintah beliau lalu membawa kurma tersebut kepada beliau. Lalu beliau datang dan duduk di atas kumpulan kurma tersebut atau di tengah-tengahnya kemudian beliau bersabda: Berikanlah setiap orang sesuai dengan ukuran masing-masing. Maka akupun menimbangnya sehingga setiap orang telah terpenuhi hanya masing-masing. Sementara kurma milikku tetap tersisa seakan-akan tidak berkurang apapun darinya”.HR. Al-Bukhari.
                Di antara mu’jizat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah turunnya keberkahan pada air yang sedikit.
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata: Aku melihat Rasullah Shallallahu alaihi wa sallam pada saat waktu shalat asar telah tiba. Maka para sahabatpun mencari air wudhu namun mereka tidak mendapatkannya. Maka didatangkanlah kepada Beliau bejana yang berisi air untuk berwudu’. Maka Rasulullah Shallallahu alai wa sallam  meletakkan tangannya di dalam bejana tersebut, lalu beliau memerintahkan para sahabat untuk berwudu padanya. Sungguh, Aku menyaksikan bahwa air tersebut keluar dari bawah jari jemari beliau sampai seluruh sahabat bisa berwudu dengannya. HR. Bukhari.
Di dalam sebuah riwayat disebutkan. Qotadah berkata: Aku berkata kepada Anas: Berapa jumlah kalian pada saat kejadian tersebut: Sekitar tigaratus orang atau kurang lebih tiga ratus orang”. HR.Al-Bukhari.
Di dalam riwayat yang lain menyebutkan bahwa hal yang sama pernah terjadi di Al-Hudaibiyah. Dari Jabir radhiallahu anhu berkata: Para shahabat ditimpa kehausan pada hari terjadinya perjanjian Al-Hudaibiyah, sementara di hadapan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam teradapat sebuah bejana kecil dari kulit, maka beliaupun  berwudhu, lalu para shahabat berdatangan kepada beliau meminta pertolongan. Beliau bertanya: Apa yang terjadi?. “Kami tidak memliki air untuk berwudhu’ dan minum kecuali air yang ada di hadapanmu”. Maka beliaupun memasukkan tangannya ke dalam bejana tersebut, lalu air menyembur dari jari-jari beliau seakan keluar dari sumber mata air, maka kamipun meminumnya dan berwdhu darinya”. Jawab para shahabat. Aku bertanya: Berpakah jumlah kalian pada saat itu: “Seandainya jumlah kami mencapai seratus ribu maka hal itu sudah mencukupi, jumlah kami adalah seribu lima ratus orang”.
                Di antara mu’jizat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah sembuhnya orang yang sakit dengan izin Allah. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Al-Barra’ bin Azib radhiallahu anhu, pada saat dirinya menjalankan sebuah misi yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam “….pada suatu malam yang terang aku terjatuh yang mengakibtakan tulang betisku patah, lalu aku mengiktanya dengan sorbanku kemudian barulah aku pergi melanjutkan perjalanan…lalu datang kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dan menceritakan apa yang telah  terjadi, lalu beliau berkata: “Rentangkanlah kakimu”. Maka akupun merentangkan kakiku lalu beliau mengusapnya sehingga sembuh seakan tidak pernah terjadi sakit apapun”. HR. Al-Bukhari.
                Hanya ini yang dapat saya sampaikan, dan aku memohon ampun kepada Allah Shubanahu wa ta’alla Yang Maha Tinggi untuk diriku dan kalian semua.


Khutbah Kedua
Segala puji hanya bagi Allah Shubanahu wa ta’alla, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam, kepada keluarga dan para shahabat beliau yang baik dan suci. Wa Ba’du:
Sesungguhnya Mu’jizat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam yang membuktikan tentang  kenabian dan kejujuran beliau sangat banyak. Dan perlu diperhatikan bahwa bangsa Arab pada saat itu adalah bangsa yang menguasai kefasihan berbahasa yang mengagumi ungkapan-ungkapan indah bermakna. Walau demikian, mu’jizat beliau melebihi realitas ini, agar mu’jizat Al-Qur’an yang kekal yang dimilikinya dibarengi dengan mu’jizat nyata yang dapat dilihat dan didengar oleh masyarakat pada waktu itu. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu bahwa pada hari Jum’at Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam berdiri pada sebuah pohon atau pada pohon kurma. Lalu seorang wanita atau seorang lelaki dari kaum Anshar berkata: Wahai Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidakkah lebih baik jika kami membuatkan bagi anda sebuah mimbar? Beliau menjawab: “Tidak mengapa jika kalian mau”. Maka para sahabatpun membuat sebuah mimbar bagi beliau. Lalu pada saat hari jum’at datang beliaupun mendekati mimbar tersebut. Namun pohon kurma (yang pernah dijadikannya sebagai tempat berdiri) menangis tersedu-sedu sama seperti menangisnya seorang anak, kemudian Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam turun dari mimbar lalu memeluknya dengan pelukan kasih sayang yang bisa menenangkannya. Beliau bersabda: Dia menangis karena mendengar zikir yang pernah disebut pada saat aku berada diatasnya”.
Diriwayatkan oleh Muslim dari  Abi Hurairah radhiallahu anhu berakta: Abu Jahal berkata: Apakah Muhammad membalut mukanya agar menjadi putih di hadapan kalian?. Dikataktan kepadanya: Ya. Dia menjawab: Demi Lata dan Uzza jika aku melihatnya melakukan hal tersebut maka aku akan menginjak kepalanya atau memasukkan wajahnya pada debu. Abu Hurairah menceritakan: Maka diapun mendatangi Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam yang sedang shalat untuk menginjak mukanya pada tanah. Perwai menceitakan: Manusia terkaget-kaget dengan keadaannya yang berbalik meninggalkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam sambil melindungi dirinya dengan kedua tangannya. Dikatakan kepadanya: Apa yang sedang terjadi dengan dirimu? “Sesungghunya antara diriku dan dirinya teradapat sebuah parit dari api, dan sesuatu yang menakutkan serta makhluk yang bersayap”. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Seandainya dia mendekat padaku maka malaikat akan mencabik badannya satu persatu…”. HR. Muslim.
Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla memberikan keberkahan bagi diriku dan bagi kalian semua dengan ayat Al-Qur’anul karim, ayat-ayat yang terdapat padanya memberikan manfaat bagiku dan bagi kalian semua.

Ya Allah tunjukkanlah kepada kami sebuah kebenaran dan berikanlah kemudahan bagi kami untuk mengikutinya dan perlihatkanlah kepada kemi kebatilan itu sebagai sesuatu yang batil dan jauhkanlah kami darinya. Dan janganlah engkau libatkan  kami dalam perkara yang belum jelas status kebenarannya yang bisa menjerumuskan diri kami ke dalam hawa nafsu, dengan rahmat -Mu ya Allah Yang Maha Penyayang.

(Sumber : islamhouse.com)

ISLAMIC MEDITATION EBOOK