Meditasi Sufi

Sasaran dan maksud Muraqabah/Meditasi/Rabita Sharif adalah untuk memperaragakan kehadiran terus-menerus ke dalam realitas Shaykh. Semakin seseorang memelihara pelatihan ini, semakin terungkapkan manfaatnya dalam kehidupan sehari-harinya sampai pada titik dia
mencapai tataran nihil dalam hadhirat Shaykh. Orang harus tahu betul bahwa Shaykh adalah jembatan antara (dunia) ilusi dan benar (nyata = realitas) dan dia berada di dunia ini hanya untuk tujuan itulah. Jadi Shaykh adalah seutas tali (tambang) khas yang diulurkan kepada siapapun yang mencari kebebasan (dari ilusi), karena hanya dia yang dapat memberikan layanan sebagai penghubung (link) antara seseorang yang masih terikat kepada dunia ini dan Hadhirat Ilahi. Agar menjadi nihil dihadapan dan keberadaan Shaykh adalah menjadi nihil dalam kenyataan, dalam Hadhirat Ilahi, karena memang sesungguhnya disitulah dia berada.
Langkah1
Bayangkan dirimu berada di hadapan Shaykh. Sampaikam salammu. Tutup matamu. Pandanglah melalui Mata Jantung. Jangan mencari wujud muka, hanya Auranya saja, ruhaniah.
Sebagai awal murid dapat memulai praktek Muraqabah ini untuk jangka waktu pendek dari 5 sampai 15 menit, dan secara bertahap menjalaninya menuju jangka waktu yang lebih panjang, bahkan merentang sampai berjam-jam sekali sessi. Yang terpenting adalah bahwa seseorang
mempertahankan sebuah praktik yang taat azas (consistent) untuk mendapatkan manfaat praktid. Adalah berlipat kali lebih baik dan bijaksana untuk bertahap pada sessi yang pendek secara harian daripada disiplin dan praktek yang acak. Sebuah upaya kecil yang dilakukan secara taat azas akan menghasilkan kemajuan luar biasa dalam waktu (keseluruhan) yang singkat.
Mengulang wudhu dan shalat 2 rakaat.
3x Shahada [ Kalimatu shahada (3 kali): Ashhadu an la ilaha illa-lah, wa ashhadu anna Muhammadan rasulu-lah]
100-200x Istighfar [Astaghfirul lahal ‘Atheem wa atubu ilayh ]
3x Surah Ikhlas [Qul hu Allah hu Ahad Allah hu Samad Lam yalid wal lam
ulad wa lam lakon la hul kofuone ahad ]
Fatiha (baca fatiha)]
Minimum 200x mencari dukungan dan kehadiran Mawlana Shaykh (Q): Madad ya Sayyidi, Madadul-Haq mengulang Dhikr.

Langkah 2
Mata tertutup; mohon izin untuk menyambung cahaya (nur) beliau kepada jantungmu dan cahaya (nur) mu kepada jantung beliau. Bayangkan sebuah kontak dua arah dan kemudian, baca award di atas. Ketika seseorang duduk bermeditasi dan menutup matanya, orang itu memfokuskan pikirannya pada satu titik tunggal. Dalam hal ini titik itu biasanya adalah konsep dari mentor spiritualnya, yaitu : dia mem-fokuskan seluruh kemampuan kesaksiannya memikirkan dengan konsentrasi penuh tentang guru spiritual nya, agar supaya mendapatkan
gambaran (image) mentor nya pada layar mental, selama dia masih berada dalam status meditasi itu. Sifat (properties), karakteristik dan potensi yang terkait dengan sebuah gambaran (image) juga dipindahkan pada layar pikiran ketika gambaran (image) itu terbentuk pada layar mental dan pikiran menerimanya sesuai dengan itu. Sebagai contoh, seseorang sedang memperhatikan api. Ketika gambaran (image) api itu dipindahlan kepada layar pikiran, suhu dan panas api itu terekam oleh pikiran. Seseorang yang hadir dalam sebuah taman menikmati kesegaran dan kesejukan pepohonan dan tanaman dalam taman itu untuk menciptakan gambaran itu semua pada layar pikirannya. Begitu juga ketika gambaran mentor spiritual dipindahkan pada layar pikiran, Ilmu yang Dihadirkan (the Presented Knowledge) yang beroperasi dalam diri guru spiritual, juga ikut dipindahkan dengan gambaran itu dan pikiran murid secara bertahap menyerap (assimilates) hal yang sama.

Langkah 3
Duduk bersimpuh, yang rapi, tetap bersimpuh, mata tertutup, tangan di tempat, mulut tertutup, lidah ditekuk ke atas, napas terkendali, kuping mendengar Quran, Salawat atau suara sendu. Ruang gelap Meditasi, memikirkan tentang mentor spiritual, sebuah upaya untuk memfokuskan dengan konsentrasi pikiran kita kepada seseorang, sehingga image nya dapat dipantulkan secara berulang pada layar pikiran kita, (maka) kita terbebaskan dari keterbatasan indera. Makin sering sebutir pikiran di tayangkan pada layar mental, makin jelas pula formasi (pembentukan) sebuah pola dalam pikiran itu. Dan, pola pikiran demikian ini, dalam istilah spiritualitas, disebut ’pendekatan pikiran. Ketika kita membayangkan mentor spiritual atau ’Shaykh’, sebagai sebuah hal dari hukum eternal, ilmu Elohistic Attributes yang beroperasi dalam Shaykh dipantulkan pada pikiran kita dengan ulangan yang berkali-kali menghasilkan pencerahan pikiran dari murid dengan cahaya nur yang berfungsi dalam diri Shaykh dan dilimpahkan kepadanya. Pencerahan jantung murid berusaha mencapai tataran atau tahap Shaykhnya. DalamSufism, keadaan ini disebut ’Kedekatan’ (nisbat). Cara terbaik dan telah teruji untuk menikmati kedekatan, menurut spiritualitas, adalah hasrat kerinduan dari cinta. Pikiran Shaykh terus menerus mengirimkan (transfer) kepada murid spiritualnya sesuai dengan kobaran cinta dan rindu akan Shaykh, yang mengalir di dalam diri murid dan ada datang satu saat ketika cahaya nur beroperasi dalam diri Shaikh yang sesungguhnya adalah pantulan Tampilan Indah Ilahi yang dipindahkan kepada murid spiritual itu. Hal ini memungkinkan murid spiritual untuk membiasakan diri dengan Cahaya
Gemilang dan Tampilan Indah. Keadaan ini, dalam istilah sufism, disebut ’ Menyatu dengan Shaykh (Fana fi Shaikh). Cahaya Shaikh dan Tampilan Indah gemilang yang beroperasi dalam diri Shaykh bukanlah ciri pribadi Shaykh. Sebagaimana halnya murid spiritual, yang dengan perhatian dan konsentrasi penuh dedikasi, menyerap (assimilasi) ilmu dan ciri khas Shaykhnya, maka Shaykh juga menyerap ilmu dan busana (ciri = attributes) Nabi (s.a.w.) dengan perhatian dan konsentrasi penuh dedikasi pikiran.
Langkah 3a
Posisi duduk : Posisi Teratai (yoga Lotus) adalah oke, Wudu Ritual Wudhu adalah kunci sukses. Kapal Nabi Nuh a.s. melawan banjir kebodohan (cuek). Kebersihan adalah dekat dengan iman (ilahiah). Ingat bahwa bukanlah saya yang menghitung bahwa saya adalah bukan apa-apa, saya dan aku harus melebur kedaalm dia. Shaykh ku, Rasul ku , menggiring kepada Rabb ku..
Dhikr dengan penolakan (laa ilaha) dan pembenaran (illa  Allah), dalam tradisi Shaykh Naqshbandi, mensyratkan bahwa murid (sang pejalan) menutup matanya, menutup mulutnya, menekan giginya, melekatkan lidahnya ke langit-langit mulutnya, dan menahan (mengatur) napasnya. Dia harus membaca dhikr itu melalui jantungnya, dengan penolakan dan pembenaran, memulainya dengan kata LAA ("Tidak"). Dia mengangkat "Tidak" ini dari titik (dua jari) di bawah pusar kepada otaknya. Ketika mencapai otaknya kata "Tidak" mengeluarkan kata ILAHA ("sesembahan"), bergerak dari otaknya ke bahu Kanan, dan kemudian ke bahu Kiri di mana dia menabrak jantungnya dengan ILALLAH ("kecuali Allah"). Ketika kata itu mengenai jantungnya energi dan panasnya menjalar/ memancar ke sekujur tubuhnya. Sang pejalan yang telah menyangkal semua yang berada di dunia ini dengan kata-kata LAA ILAHA, membenarkan dengan kata-kata ILLALLAH bahwa semua yang ada telah dilenyapkan di Hadhirat Ilahi.
Langkah 3b
Posisi Mulut dan Lidah Menutup matanya, Menutup mulutnya, Menekan giginya, Melekatkan lidahnya pada langit-langit mulutnya, dan menahan napas. { dari saat-ke-saat untukmemperlambat napas dan getaran jantungnya.} Tangan membawa rahasia yang dahsyat, mereka itu seperti parabola satelit (antene) mu, pastikan bahwa mereka itu bersih dan berada dalam posisi yang semestinya. Jadi ketika kamu memulai dengan tangnmu itu, menggosok-gosoknya, ketika mencucinya dan menggosok gosoknya untuk mengaktifkan mereka, itu adalah tanda dari (angka) 1 dan (angka) 0, dan kamu sedang mengaktifkan proses kode yang diberikan Allah melalui tangan itu. Kamu mengaktifkan mereka.Mereka memiliki titik sembilan peluru (bullet?) yang terdiri dari keseluruhan sistem, seluruh tubuh. Ketika engkau menggosok jari-jari itu, engkau sesungguhnya mengaktifkan 99 asma-ulhusna Allah. b) Dengan mengaktifkan mereka engkau mengaktifkan 9 titik dalam tubuhmu.
c) Dan ketika mengaktifkan mereka, itu adalah seperti menghidupkan penerima (pada rqadio/tv), energi mengalir masuk, itu mulai berfungsi untuk dapat menerima, memecahnya dalam bentuk kode digital yang dipancarkan keluar seperti gambar atau suara sebagaimana kita kenal di zaman ini (radio dan tv).
d) Demikian juga halnya dengan tangan yang saling mengelilingi, itulah mengapa ketika kita menggosok-gosokkan dan membuka mereka, mereka mulai bertindak seperti lingkaran satu terhadap lainnya, menampung apapun energi yang datang, dan mereka ini mengkelolanya . Lihatlah pada bagian Rahasia Tangan
Langkah 4
Posisi Tangan :
Jempol dan telunjuk memperagakan posisi "Allah Hu" untuk kuasa/kekuatan terbesar. Tangan diberi kode dengan kode angka, tangan kanan "18", tangan kiri "81" masing-masing dijumlahkan keduanya menjadi 9 dan dua 9 menjadi 99 . Tangan diberi karakter dengan asmaul
husna Allah. Dan nama ke 99 dari Rasul adalah Mustafa..
(lebih banyak lagi di depan)..
Bernapas dengan Sadar ("Hosh dar dam")

Hosh artinya "pikiran." Dar artinya "dalam." Dam artinya "Napas." Itu artinya, menurut Mawlana Abdul Khaliq al-Ghujdawani (q), bahwa " Missi paling penting bagi pejalan dalam thariqat ini adalah menjaga napasnya, dan dia yang tidak dapat menjaga napasnya, akan dikatakan tentang orang itu, ’dia telah tersesat/kehilangan dirinya.’"
Shah Naqshband (q) berkata, "Thareqat ini dibangun di atas (dengan pondasi) napas. Jadi adalah sebuah keharusan untuk semua orang menjaga napasnya dikala menghisap dan membuang napas, dan selanjutnya untuk menjaga napasnya dalam jangka waktu antara menghisap dan membuang napasnya."
"Dhikr mengalir dalam tubuh setiap makhluq hidup oleh keharusan (kebutuhan) napas mereka bahkan tanpa kehendak sebagai sebuah tanda/peragaan ketaatan, yang adalah bagian dari penciptaan mereka.
Melalui napas mereka, bunyi huruf "Ha" dari Nama Ilahiah Allah dibuat dengan setiap membuang dan menghisap napas dan itu adalah sebuah tanda dari Jati Diri (Dzat) Gaib yang berfungsi untuk menekankan Kekhasan Allahu Shamad. Maka adalah penting untuk hadir dengan napas seperti itu, agar supaya menyadari (merasakan) Jati Diri (Dzat) Maha Pencipta."
Nama ’Allah’ yang meliputi sembilan puluh sembilan asma-ulhusna terdiri atas empat huruf, Alif, Lam, Lam dan Hah yang sama dengan suara napas - (ALLAH). Masyarakat Sufism mengatakan bahwa Dzat Allah SWT yang paling gaib mutlak dinyatakan oleh huruf terakhir itu yang dibunyikan dengan vokal Alif, "Ha." Ini mewakili Gaib Absolut Dzat Nya Allah SWT.
Memelihara napasmu dari kelalaian akan membawa mu kepada Hadhirat sempurna, dan Hadhirat sempurna akan membawamu kepada Penampakan (Visi) sempurna , dan Penampakan sempurna akan membawamu kepada Hadhirat (Manifestasi) asma-ulhusna Allah yang sempurna. Allah membimbingmu kepada Hadhirat asma-ulhusna Nya, karena dikatakan
bahwa, " Asma Allah adalah sebanyak napas makhluq." Hendaknya diketahui oleh semua orang bahwa melindungi napas terhadap kelalaian sungguh sukar bagi para pejalan. Maka mereka harus menjaga nya dengan memohon ampunan (istighfar) karena memohon ampunan akan membersihkannya dan mensucikannya dan mempersiapkan sang pejalan untuk (menjumpai) Hadhirat Benar (Haqqu) Allah dimana-mana.
Langkah 5 
Bernapas, Menghirup melalui hidung - Dhikr = "Hu Allah", bayangkan cahaya putih memasuki tubuh melalui perut. Menghembus melalui hidung - Dhikr= "Hu", bayangkan   hitamnya carbon monoxide adalah semua perbuatan dosamu dikuras / didorong keluar dari dirimu. "pejalan bijak
harus menjaga napasnya dari kelalaian, seiring dengan masuk dan keluar nya napas, dengan
demikian menjaga jantung nya selalu dalam Hadhirat Ilahi; ; dan dia harus menghidupkan
napasnya dengan ibadah dan pengabdian dan mempersembahkankan pengabdiannya itu kepada Rabb nya dengan segenap hidupnya, karena setiap napas yang dihisap dan dihembuskan dengan Hadhirat adalah hidup dan tersambung dengan Hadhirat Ilahi.
Setiap napas yang dihisap dan dihembuskan dengan kelalaian (cuek) adalah mati, terputus dari Hadhirat Ilahi."
Untuk mendaki gunung,sang pejalan harus melintasi dari dunia Bawah menuju Hadhirat Ilahi. Dia harus melintasi dari dunia ego keberadaan sensual (sensasi) menuju kesadaran jiwa terhadap Al Haqqu..
Untuk membuat kemajuan dalam perjalanan ini, sang pejalan harus membawa ke dalam jantungnya gambaran Shaykh nya(tasawwur), karena itu adalah cara paling kuat untuk melepaskan diri dari cengkeraman sensual (sensasi) nya. Shaykh menjadi, dalam jantungnya, cermin dari Dzat Absolute. Jika dia berhasil, kondisi penisbian diri (ghayba) atau "absensi" dari dunia sensasi, muncul dalam dirinya. Sampai kepada tahap bahwa keadaan ini menguat dalam dirinya, (dan) keterikatannya kepada dunia sensasi melemah dan menghilang, dan fajar dari Level Hilang Mutlak Tidak Merasa Selain Allah mulai menyinari dirinya.
Derajat tertinggi maqam ini disebut fana'. Demikianlah Shah Naqshband (q) berkata :
"Jalan terpendek kepada sasaran kita, yaitu Allah SWT mengangkat tabir dari Dzat Wajah Nya Yang Ahad yang berada dalam semua makhluq ciptaan Nya. Dia melakukan itu dengan (melalui) maqam ghayba dan fana', sampai Dzat Agung (Majestic Essence) menyelimutinya dan
menghilangkan (melenyapkan) kesadarannya akan segala sesuatu selain Dia. Inilah akhir perjalanan untuk mencari Allah dan awal dari perjalanan lainnya."
"Pada akhir Perjalanan Pencarian dan Level Ketertarikan datanglah Level Perendahan Diri dan Penihilan. Sasaran ini adalah untuk segenap ummat manusia sebagaimana disebut Allah dalam al Qur’an: ’Aku tidak menciptakan Jinn dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada Ku.’ Beribadah disini berarti Ilmu Sempurna (Macrifat)."
Langkah 6 
Memakai (membawa) busana Shaykh : 3 tahap perjuangan yang berkesinambungan Memelihara Cinta Nya {Muhabat}, Memelihara Kehadiran Nya { Hudur} Melaksanakan Kehendak Nya atas diri kita { Annihilasi atau Fana}.
Kita memiliki cinta kepada Nya, jadikini pakailah (kenakanlah) Cahaya Nya dan selanjutnya
bayangkan segala sesuatunya dari titik (sudut) ini, dengan busana yang kita kenakan itu. Ini
adalah penopang hidup (life support) kita. Kamu tidak boleh makan, minum, shalat,dhikr atau
melakukan apapun tanpa membayangkan Bayangan Shaykhs pada kita. Cinta ini akan menyatu dengan Hadhirat Ilahi, dan ini akan membuka pintu Penihilan ke dalam Nya. Semakin seseorang menjaga ingatan untuk mengenakan busana dengan dia (Shaykh) semakin meningkatlah proses Penihilan itu berlangsung. Kemudian penuntun (guide) itu akan meninggalkan (menihil diri) dirimu di hadirat Rasul Allah Sayedena Muhammad {s.a.w.}. Dimana sekali lagi kamu akan menjaga cinta (kepada) Rasul {Muhabat}, menjaga Hadirat nya
{ Hudur}. Laksanakan kehendaknya atas diri kita {Penihilan atau Fana}. Fana fi Ma Shaykh , RasulAllah, Allah..
Penihilan Fana
Dalam keadaan spirit murid menyatu dengan spirit Shaykhnya kemampuan Shaykh akan diaktifkan dalam diri muridnya, karena itu Shaikh menikmati kedekatan Nabi (s.a.w.). Dalam situasi ini, dalam istilah sufism, disebut Penyatuan dengan Rasul (Fana fir Rasul). Ini adalah pernyataan Nabi (s.a.w.), "Saya seorang manusia seperti kamu, namun saya menerima ilham
(revelation)’. Jika pernyataan ini dicermati, didapatlah bahwa kemuliaan (exaltation) Nabi terakhir ini adalah bahwa dia menerima Ilham (Revelations) dari Allah, SWT, yang mencerminkan Ilm-e-ladduni; ilmu yang diilhamkan langsung oleh Allah, Pandangan Cantik (Beatific Visions) Allah dan Cahaya Gemilang kepada Jantung Nabi s.a.w..
Dalam keadaan ’Penyatuan dengan Nabi s.a.w.’ seorang murid karena emosinya, kerinduannya dan cintanya secara sedikit demi sedikit, langkah demi langkah, berassimilasi dan mengenali ilmu Nabi Suci s.a.w..
Kemudian datanglah saat paling berharga (yang ditunggu-tunggu) ketika ilmu dan pelajaran dipindahkan (transferred) dari Nabi Suci s.a.w kepadanya sesuai dengan kapasitas nya..
Murid itu menyerap karakter Nabi Suci s.a.w. sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya dan karena kedekatannya dengan Nabi Suci s.a.w. dan dukungannya dia dapat mencapai keadaan ketika dia mengenali Rabbil Alamin, ketika Dia menguraikan dalam al Quran, Ya, sesungguhnya Engkau adalah Rabbi!. Kedekatan ini, dalam sufism, disebut Penyatuan dengan Allah’ (Fana fi-lah) atau singkatnya wahdat. Setelah itu, jika seseorang dikaruniai dengan kemampuan, dia akan membuat explorasi di daerah yang tentangnya cerita (narrasi) tidak lagi memiliki kata-kata untuk menjelaskan nya , karena kepekaan dan kehalusan (situasi) nya.
Langkah 7 
Menjadi sesuatu yang tidak ada, kendaraan sebening kristal untuk siapapun yang ingin mengisi keberadaanmu dari Allah Malikul Mulk. Dalam keadaan ’Penyatuan dengan Nabi Suci seorang
murid karena emosinya, kerinduannya dan cintanya secara bertahap, langkah demi langkah, berassimilasi dan mengenali  ilmu dari Nabi Suci s.a.w..


Sumber : www.nurmuhammad.com

Astaghfirullah

asma ul husna

KEAJAIBAN PERNAPASAN 1 4

MEDITASI - Manfaat & Teknik Asas Meditasi

KHUSYUK SAAT MENUNAIKAN SHALAT




Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah saw, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan ang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya, dan aku ersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Wa Ba’du: Allah swt berfirman:

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman  (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya”. Al-Mu’minun: 1-2

Setelah Allah menyebutkan sebagian sifat-sifat mereka, kamudian Dia menyebutkan balasan mereka:
َ
Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. QS. Al-Mu’minun: 9-10 Al-Hasanul Bashri rahimhullah berkata tentang firman Allah swt:

 (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya”.

Dia berkata: Mereka khusyu’ di dalam hati mereka, maka mereka menundukkan pandangan mereka dan bersikap merendah”.

Ibnul Qoyyim berkata: Allah menggantungkan kemenangan orang-orang yang shalat dengan kekhusyu’an mereka dalam menjalankan ibadah shalat, maka hal ini menunjukkan bahwa orang yang tidak khusyu’ dalam
menjalankan ibadah shalat maka dia tidak termasuk orang yang beruntung dan seandainya dia mengharapkan pahalanya niscaya dirinya termasuk orang-orang yang beruntung”.

 Makna khusyu’ adalah ketundukan, kelembutan dan ketenangan hati. Dan apabila hati merasakan kekhusyu’an tersebut maka anggota badanpun mengikutinya. Sebab angaota badan ini mengikuti perintah hati. Dari Nu’man bin Basyir ra bahwa Nabi saw bersabda:  Ketahuilah sesungguhnya di dalam badan ini terdapat segumpal daging yang apabila dia baik maka baiklah seluruh jasad dan apabila rusak maka rusaklah
seluruh bagaian jasad, ketahuilah bahwa itulah hati”.

Oleh karena itulah Nabi saw berkata di dalam shalat beliau: Pendengaran, pengelihatan, otak, tulang dan uratku khusyu’ kepadaku”.

Dari Auf bin Malik ra berkata: Pada saat kami duduk-duduk di sisi Nabi
sawpada suatu hari kemudian beliau memandang ke langit dan bersabda:
Inilah waktu diangaktnya ilmu”, lalu seorang dari kaum Anshor bernama:
Ziad bin Labid berkata kepadanya: Apakah ilmu itu akan ternagkat padahal
kami di tengah-tengah kita ada AlQur’an dan kami telah mengajarkannya
kepada anak-anak kita dan istri-istri kita wahai Rasulullah?. Rasulullah
saw bersabda: “Aku memperkirakan engkau sebagai penduduk kota
Madinah yang paling paham terhadap agama”. Kemudian beliau menyebut
kesesatan dua ahli kitab padahal mereka memiliki kitab Allah Azza Wa
Jalla. Lalu Jubair bin Nufair bertemu dengan Syaddad bin Aus di mushalla
lalu memberitahukn hadits ini dari riwayat Auf bin Malik, lalu dia berkata:
Sungguh Auf benar-benar jujur”. Kemudian dia bertanya kembali: Apakah
engkau mengetahui bagaimanakah ilmu itu terangkat?: Dia menjawab: Aku
tidak mengetahui. Dia menjawab: yaitu dengan kepergian wadah-wadahnya.
Lalu bertanya kemballi apakah engkau mengetahui ilmu apakah yang paling
pertama terangakat?. Dia melnajutkan: Berkata: Aku tidak mengetahui. Dia
menjawab: Kekhusyu’an, sehingga hamper saja engkau  tidak melihat
seorangpun yang khusyu’”.
5
 Apabila seseorang yang menjalankan shalat memasuki mesjid maka
mulailah  bisikan-bisikan, pikiran-pikiran dan kesibukan dengna perkara
dunia merasuki akal fikrannya dan dia tidak menyadari dirinya dalam
beribadah kecuali setelah imam selesai dengan shalatnya, maka apda saat
                                               
3
 Shahih Bukhari: 1/234 nno: 52 dan shahih Muslim: 3/1220 no: 1599
4
 Bagian dari hadits di dalam shahih Muslim: 1/53 no: 771
5
 Musnad Imam Ahmad: 6/26-27 5
itulah dia merugi dengan shalatnya yang tidak dikerjakan secara khusyu’
dan tidak pula merasakan manisnya beribadah, dia hanya gerakan-gerakan
yang komat-kamit mulut sama seperti jasad yang hampa dari ruh.
 Ibnul Qoyyim raohimahullah berkata: Shalat tanpa kekhusyu’an dan
kehadiran hati sama dengan jasad yang mati tanpa ruh, apakah seorang
hamba tidak malu jika dia menghadiahkan kepada orang lain sosok tubuh
yang telah membangkaia atau seorang budak wanita yang telah mati? Aku
tidak mengira bahwa hadiah ini akan memberikan nilai penghargaan bagi
hamba dari orang yang ditujunya baik raja atau gubernur atau yang
setingkat dengannya. Seperti inilah shalat yang hampa dari rasa khusyu’
dan kehadiran hati serta semangat pengbadian kepada Allah, sama seperti
hamba atau budak wanita yang mati yang akan dipersembahkan kepada
raja, maka Allah pasti tidak menerimanya sekalipun  perbuatan itu
menggugurkan kewajiban hukum duniwai, dan Allah tidak akan
memberikan pahala dengannya, sebab sesungguhnya seorang hamba tidak
akan mendapatkan pahala dari shalatnya kecuali ibadah yang dikerjakan
secar khusyu’.
6
Sebagian mereka berkata: Sesungguhnya dua orang lelaki berada dalam
suatu shalat namun keduanya berada dalam perbedaan  yang sangat jauh
sama seperti jauhnya langit dan bumi”.
7
Dari Ammar bin Yasir ra bahwa Nabi saw bersabda: bahwa sungguh
seseorang selesai menunaikan shalatnya namun dia tidak mendapatkan
pahala dari shalatnya itu kecuali sepersepuluhnya, atau sepersembilannya,
atau seperdelapannya, atau sepertujuhnya, atau seperenamnya,
seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahnya”.
8
Kekhusyu’an dalam shalat akan terjadi pada orang yang mengkhususkan
hatinya untuk shalat tersebut, hatinya tertuju kepadanya bukan kepada
yang lain dia lebih mengutamakannya atas urusan yang lain, pada saat
seperti itulah shalat menajdi penyejuk mata. Dari Anas ra bahwa Nabi saw
                                               
6
 Al-Wabilus Shayyib minal kalimit tahayyib:  halaman: 11
7
 Madrijus salikin: 1/567
8
 Sunan Abi Dawud: 1/211 no: 796 6
bersabda: Diberikan kepadaku dari perkara dunia adalah senang kepada
wanita dan minyak wangi dan ketentraman ada pada shalatku”.
9
Bahkan jika Nabi saw ditimpa kesusahan oleh sautu perkara maka beliau
mendirikan shalat dan beliau saw bersabda: Bangkitlah wahai Bilal dan
tenangkanlah kita dengan shalat”.
10
Di antara kiat-kiat agar seseorang khusyu’ dalam shalatnya adalah:
Pertama: Sesorang muslim harus menghadirkan keagungan Allah swt pada
saat shalatnya tersebut, dia berdiri di hadapan Penakluk langit dan bumi.
Allah swt berfirman:

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari
kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya Maha Suci Tuhan dan
Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. QS. Al-Zumar: 67
Kedua: Seorang muslim harus melihat ke arah tempat sujudnya dan tidak
menoleh kea rah manapun saat shalatnya.
Dari ABI Dzar ra bahwa sesungguhnya Nabi saw bersabda: Allah senantiasa
menghadap kepada hambaNya pada saat dirinya mendirikan shalat selama
dia tidak menoleh, maka apabila dia memalingkan wajahnya maka Allahpun berpaling darinya”.
11
Ketiga: Mentadabburi Al-Qur’an dan zikir-zikir yang dibacanya saat shalat.
Allah swt berfirman:

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ataukah hati mereka terkunci? QS. Muhammad: 24
                                               
9
 Sunan Al-Nasa’i: 7/61 no: 3939
10
 Sunan Abu Dawud: 4/297 no: 4986
11
 Musnad Imam Ahmad: 5/172 7
Apabila seorang muslim mentadabburi zikir-zikir pada saat dia ruku’, sujud
dan yang lainnya maka hal itu akan lebih berpengaruh bagi hati dan lebih
cepat mendatangkan kekhusyu’an.
Keempat: Mengingat kematian saat shalat. Dari Abi Ayyub ra bahwa Nabi
saw bersabda: Apabila engkau mendirikan shalat maka maka shalatlah
seperti shalatnya orang yang akan berpisah”.
12
Kelima: Hendaklah seorang muslim mempersiapkan dirinya untuk shalat,
jangan sampai dia shalat dalam keadaan menahan sakit perut atau
menahan kencing atau shalat di hadapan makanan yang terhidang. Nabi
saw bersabda: Tidak boleh shalat di hadapan makanan dan tidak pula boleh
shalat saat dia menahan dua hal yang buruk (menahan kencing dan buang
air besar)”.
13
Dan hendaklah pula dia menghilangkan segala sesuatu yang bisa
menyebabkan dirinya lalai dari shalatnya seperti hiasan-hiasan, gambargambar dan yang sepertinya. Dari Aisayh ra berkata: Rasulullah saw shalat
mengenakan pakian jenis khomishah yang memiliki garis-garis lalu saat
shalat beliau melirik kepada garis-garis yang ada padanya maka Nabi saw
bersabda: Kembalikanlah kain khomisah ini kepada Abi Jahm bin Hudzaifah
dan berikanlah kepadaku kain jenis anbijani sesungguhnya dia tadi telah
melalaikanku dalam sholatku”.
14
Keenam: Berusaha mengarahkan jiwa agar dia bisa khusyu’ dalam sholat.
Khusyu’ bukan perkara yang mudah maka seseorang mesti harus bersabar
dan berusaha. Allah swt berfirman:
َ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar
akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya
Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat  baik. QS. Al-Ankabut:
69
Usaha yang terus menerus dan kesungguh-sungguhan akan mempermudah
orang mendapatkan kekhusyu’an.
                                               
12
 Bagian dari hadits di dalam Musnad Imam Ahmad: 5/412
13
 Shahih Muslim: 1/393 no: 560
14
 Shahih Bukhari: 1/141 no: 373 dan shahih Muslim: 1/391 no: 556 8
Ketujuh: Menghadirkan di dalam jiwa pahala yang akan didapatkan oleh
orang yang khusyu’ di dalam shalat. Dari Utsaman ra bahwa Nabi saw
bersabda: Tidaklah seorang muslim yang di datangi oleh shalat yang wajib,
kemudian dia baik dalam melaksanakan wudhu’, menhadirkan
kekhusyu’an dan ruku’  maka dia akan menjadi penghapus bagi dosa-dosa
yang telah dikerjakan sebelumnya, selama dia tidak pernah berbuat dosadosa besar dan hal itu terjadi selama sepanjang masa”.
15
Dan Nabi saw adalah orang yang paling banyak khusyu’nya di dalam shalat.
Abdullah bin Al-Syikkhir berkata: Aku melihat Nabi saw mendirikan shalat
dan di dalam dada beliau terdengar isak tangis seperti suara gesekan
penggiling tepung karena menangis”.
16
Dan Abu Bakr adalah seorang lelaki yang banyak menangis dikala shalat
17
sehingga dia tidak bisa memperdengarkan suara bacaannya pada saat
sholat mengimami orang. Dan Umar ra, pada saat dia  mengimami orang
dalam shalatnya dan membaca surat Yusuf maka isak tangisnya terdengar
sampai pada akhir saf dan dia membaca:

Dan Yakub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena
kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap
anak-anaknya). QS. Yusuf: 84.
18
Ibnul Qoyyim rahimhullah berkata: Manusia di dalam  masalah shlata
terbagi menjadi beberapa tingkatan:
Pertama: Tingkatan  orang yang zalim terhadap dirinya sendiri dan lalai
dengan shalatnya. Dialah orang yang shalat dengan wudhu’ yang tidak
sempurna, shalat tidak pada  waktunya, batas-batasnya dan tidak
menyempurnakan rukun-rukunnya.
Kedua: Orng yang semata-mata menjaga waktu, batas-batas shalat dan
rukun-rukunnya yang lahiriyah dan menjaga waudhu’.  Namun dia tidak
                                               
15
 Shahih Muslim: 1/206 no: 228
16
 Sunan Abu Dawud: 1/238 no: 716
17
 Shahih Bukhari: 1/236 no: 716
18
 Shahih Bukhari: 1/236  9
berusaha melawan bisikan-bisikan  maka dia terhanyut dalam bisikanbisikan dan pikiran-pikirannya di dalam shalat.
Ketiga: Barangsiapa yang menjaga batas-batas shalat dan rukun-rukunnya,
dan bersungguh-sungguh mengarahkannya jiwanya dalam melawan
bisikan-bisikan dan fikiran-fikiran yang menggoda di dalam shalatnya,
maka dengan hal tersebut sesungguhnya dia telah menyibukkan dirinya
dalam menghadapi musuhnya agar musuhnya itu tidak mencuri shalatnya,
maka dengan seperti ini dia berada dalam sholat dan jihad.
Keempat:Orang yang apabila bangkit menunaikan shalat maka dia
menyempurnakan hak-hak, rukun-rukun dan aturan-atauran shalat,
hatinya dikerahkan untuk menjaga tuntutan-tuntutan shalat, agar dia tidak
menyia-nyiakan sedikitpun dari ibadah shalatnya, bahkan seluruh potensi
dan semangatanya tercurah untuk menyempurnakan penegakan shalat
sebagaimana mestinya, maka dengan ini sungguh hatinya telah terarah
pada perkara shalat
dan ubudiyahnya kepada Allah swt.
Kelima: Orang yang bangkit menegakkan shalat dengan cara seperti di atas,
bersamaan dengan itu dia hatinya tertumpah di hadapan Allah Azza Wa
Jalla, dia melihat Allah dan menyadari akan pengawasan Allah, hatinya
cinta kepadaNya dan mengagungkanNya sekan dia melihat Allah, semua
bisikan dan lintasan-lintasan pikirante telah terhapus, telah terangkat
dinding antara dirinya dan TuhanNya, maka orang yang seperti ini di dalam
perkara shalat lebih utama dan lebih agung dari pada jarak yang
memisahkan langit dan bumi, orang yang seperti ini  sedang sibuk dengan
bermunajat kepada Tuhannya swt di dalam shalatnya.
Golongan pertama akan disiksa, golongan kedua akan dihisab, golongan ke
tiga menghapuskan keajiban, golongan keempat diberi pahala, dan golongan
ke lima mendekat kepada  Tuhannya, sebab dia termsuk golongan orang
yang menjadikan shalat sebagai perlipur lara bagi hatinya, maka
barangsiapa yang hatinya senang dengan shalatnya di dunia maka dia akan
senang dengan kedekatannya kepada Allah pada hari kiamat kelak, dan dia
juga akan senang di dunia, dan barangsiapa yang hatinya senang dengan
Allah maka setiap mata akan senang dengannya namun barangsiapa yang 10
hatinya tidak senang dengan Allah swt maka jiwanya  akan tercerai berai
atas dunia ini dengan berbagai kerugian”.
19
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam
kepada Nabi kita Muhammad dan kepada seluruh keluarga dan
shahabatnya.
                                               

 AL-Wabilus Shayyib mnial kalimit thayyib, halaman: 34-35

(islamhouse.com)



Menjaga Anak dari Bahaya ‘Ain


Penulis: Ummu Ziyad

Muroja’ah: Ust. Subhan Khadafi, Lc.

Kenikmatan adalah hal yang didambakan setiap orang. Dan setiap kenikmatan juga dapat sekaligus menjadi ujian bagi seseorang. Salah satu kenikmatan yang dikaruniakan oleh Allah bagi sepasang insan adalah hadirnya sang buah hati dalam kehidupan. Ketika telah lahir, maka fisiknya yang lucu mengundang orang untuk memandang, memanjakan, menyentuhnya. Dan ketika tumbuh beranjak menjadi sosok kanak-kanak, tetap tingkah lakunya banyak mengundang perhatian orang.
Dengan sebab ini, maka perlulah kita ketahui sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Setiap yang memiliki kenikmatan pasti ada yang iri (dengki).” (Shahihul Jami’ 223. Lihat majalah Al Furqon). Perlu menjadi perhatian bagi orang tua bahwa dalam syari’at Islam telah dijelaskan adanya bahaya ‘ain (pandangan mata) terutama bagi anak-anak. Pandangan mata yang berbahaya ini dapat muncul dengan sebab kedengkian orang yang memandang atau karena kekaguman.
Bahaya ‘Ain
Ibnu Qoyyim rohimahullah dalam kitab Tafsir Surat Muawwadzatain berkata, “Bahaya dari pandangan mata dapat terjadi ketika seseorang yang berhadapan langsung dengan sasarannya. Sasaran tukang pandang terkadang bisa mengenai sesuatu yang tidak patut didengki, seperti benda, hewan, tanaman, dan harta. Dan terkadang pandangan matanya dapat mengenai sasaran hanya dengan pandangan yang tajam dan pandangan kekaguman.” Pengaruh dari bahaya pandangan mata pun hampir mengenai Rasulullahshollallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana firman-Nya,
وَإِن يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ
“Sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al Qur’an dan mereka mengatakan ‘Sesungguhnya dia (Muhammad) benar-benar gila.” (Al Qalam [68]: 51)
Terdapat pula hadits dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
العين حقُُّ ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين
“Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya.” (HR. Muslim)
Subhanallah, lihatlah bagaimana bahaya ‘ain telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As Sunnah. Dan terdapat pula contoh-contoh pengaruh buruk ‘ain yang terjadi pada masa sahabat. Salah satunya adalah yang terjadi ada Sahl bin Hunaif yang terkena ‘ain bukan karena rasa dengki namun karena rasa takjub. Sebagaimana dalam hadits,
Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif menyebutkan bahwa Amir bin Rabi’ah pernah melihat Sahl bin Hunaif mandi lalu berkatalah Amir, “Demi Allah, Aku tidak pernah melihat (pemandangan) seperti hari ini, dan tidak pernah kulihat kulit yang tersimpan sebagus ini.” Berkata Abu Umamamh, “Maka terpelantinglah Sahl.” Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Amir. Dengan marah beliau berkata, “Atas dasar apa kalian mau membunuh saudaranya? Mengapa engkau tidak memohonkan keberkahan (kepada yang kau lihat)? Mandilah untuknya!” Maksudnya Nabi menyuruh Amir berwudhu kemudian diambil bekas air wudhunya untuk disiramkan kepada Sahl dan ini adalah salah satu cara pengobatan orang yang tertimpa ‘ain bila diketahui pelaku ‘ain tersebut (*). Maka Amir mandi dengan menggunakan satu wadah air. Dia mencuci wajah, kedua tangan, kedua siku, kedua lutut, ujung-ujung kakinya dan bagian dalam sarungnya. Kemudian air bekas mandinya itu dituangkan kepada Sahl, lantas dia sadar dan berlalulah bersama manusia.” (HR. Malik dalam al Muwaththa 2/938, Ibnu Majah 3509, dishahihkan oleh Ibnu Hibban 1424. sanadnya shahih, para perawinya terpercaya, lihat Zaadul Ma’adtahqiq Syu’aib al Arnauth dan Abdul Qadir al Arnauth 4/150 cet tahun 1424 H. Lihat majalah Al Furqon).
(*) Kata mandi yang ada di sini maksudnya adalah berwudhu sebagaimana disebutkan Imam Malik dalam kitab Al MuwatthoWallahu a’lam.
Tanda-Tanda Terkena ‘Ain
Tanda-tanda anak yang terkena ‘ain di antaranya adalah menangis secara tidak wajar (bukan karena lapar, sakit atau mengompol), kejang-kejang tanpa sebab yang jelas, tidak mau menyusu pada ibunya tanpa sebab, atau kondisi tubuh sang anak kurus kering dan tanda-tanda yang tidak wajar lainnya.
Sebagaimana dalam hadits dari Amrah dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata, “Pada suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk rumah. Tiba-tiba beliau mendengar anak kecil menangis, lalu Beliau berkata,
ما لِصبيِّكم هذا يبكي قهلاََ استرقيتم له من العين
“Kenapa anak kecilmu ini menangis? Tidakkah kamu mencari orang yang bisa mengobati dia dari penyakit ‘ain?” (HR. Ahmad, Baqi Musnadil Anshar. 33304).
Begitu pula hadits Jabir radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata kepada Asma’ binti Umais, “Mengapa aku lihat badan anak-anak saudaraku ini kurus kering? Apakah mereka kelaparan?” Asma menjawab, “Tidak, akan tetapi mereka tertimpa ‘ain”. Beliau berkata, “Kalau begitu bacakan ruqyah bagi mereka!” (HR. Muslim, Ahmad dan Baihaqi)
Berlindung dari Bahaya ‘Ain
Sesungguhnya syari’at Islam adalah sempurna. Setiap hal yang mendatangkan bahaya bagi umatnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu telah menjelaskan tentang perkara tersebut dan cara-cara mengantisipasinya. Begitu pula dengan bahaya ‘ain ini.
1. Bagi Seseorang yang Memungkinkan Memberi Pengaruh ‘Ain
Berdasarkan hadits Abu Umamah di atas maka hendaknya seseorang yang mengagumi sesuatu dari saudaranya maka yang baik adalah mendoakan keberkahan baginya. Dan berdasarkan surat Al Kahfi ayat 39, maka ketika takjub akan sesuatu kita juga dapat mengucapkan doa:
مَا شَآءَ اللهُ لاَ قُوَّةَ إلاَّ بِا للهِ
Artinya:
“Sungguh atas kehendak Allah-lah semua ini terwujud.”
2. Bagi yang Memungkinkan Terkena ‘Ain
Sesungguhnya ‘ain terjadi karena ada pandangan. Maka hendaknya orang tua tidak berlebihan dalam membanggakan anaknya karena dapat menimbulkan dengki ataupun kekaguman pada yang mendengar dan kemudian memandang sang anak. Adapun jika memang kenikmatan itu adalah sesuatu yang memang telah nampak baik dari kepintaran sang anak, fisiknya yang masya Allah, maka hendaknya orang tua mendoakan dengan doa-doa, dzikir dan ta’awudz yang telah diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya adalah surat muawadzatain (surat Annas dan al-Falaq). Ada pula do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain, yaitu:
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانِِ وَ هَامَّةِِ وَ مِنْ كُلِّ عَيْنِِ لامَّةِِ
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ‘ain yang buruk.” (HR. Bukhari dalam kitabAhaditsul Anbiya’: 3120)
Atau dengan doa,
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَِ
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari kejahatan makhluk-Nya.” (HR. Muslim 6818).
Kemudian, terdapat pula do’a yang dibacakan oleh malaikat Jibril alaihissalam ketika Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat gangguan setan, yaitu:
بِسْمِ اللهِ أرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءِِ يُؤْذِيْكََ مِن شَرِّ كُلِّ نَفْسِِ وَ عَيْنِ حَاسِدِِ اللهُ يَشْفِيكَ
“Dengan menyebut nama Allah, aku membacakan ruqyah untukmu dari segala sesuatu yang menganggumu dari kejahatan setiap jiwa dan pengaruh ‘ain. Semoga Allah menyembuhkanmu.”
Dan terdapat do’a-do’a lain yang dapat dibacakan kepada sang anak untuk menjaganya dari bahaya ‘ain ataupun menyembuhkannya ketika telah terkena ‘ain. (lihat Hisnul Muslimoleh DR. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani atau Ad Du’a min Al Kitab wa As Sunnah yang telah diterjemahkan dengan judul Doa-doa Dan Ruqyah dari Al-Qur’an dan Sunnah oleh DR. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani)
Kesalahan-Kesalahan Dalam Penjagaan dari Bahaya ‘Ain atau Sejenisnya
Memang bayi sangat rentan baik dari bahaya ‘ain ataupun gangguan setan lainnya. Terdapat beberapa kesalahan yang biasa terjadi dalam menjaga anak dari gangguan tersebut karena tidak berdasarkan pada nash syari’at. Diantara kesalahan-kesalahan tersebut adalah:
  1. Menaruh gunting di bawah bantal sang bayi dengan keyakinan itu akan menjaganya. Sungguh ini termasuk kesyirikan karena menggantungkan sesuatu pada yang tidak dapat memberi manfaat atau menolak bahaya.
  2. Mengalungkan anak dengan ajimat, mantra dan sebagainya. Ini juga termasuk perbuatan syirik dan hanya akan melemahkan sang anak dan orang tua karena berlindung pada sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Perlulah kita selalu mengingat, bahwa sekalipun kita mengetahui bahaya ‘ain memiliki pengaruh sangat besar dan berbahaya, namun tidaklah semua dapat terjadi kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kita sebagai orang Islam tidaklah berlebihan dalam segala sesuatu. Termasuk dalam masalah ‘ain ini, maka seseorang tidak boleh berlebihan dengan menganggap semua kejadian buruk berasal dari ‘ain, dan juga tidak boleh seseorang menganggap remeh dengan tidak mempercayai adanya pengaruh ‘ain sama sekali dengan menganggapnya tidak masuk akal. Ini termasuk pengingkaran terhadap hadits-hadits shahih Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Sikap yang terbaik bagi seorang muslim adalah berada di pertengahan, yaitu mempercayai pengaruh buruk ‘ain dengan tidak berlebihan sesuai dengan apa yang dikhabarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.
(http://muslimah.or.ir)

ISLAMIC MEDITATION EBOOK