Bersikaplah Adil, Wahai Suami!!!

Muqodimah
Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ كَانَ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ » [ رواه أبو داود والترمذي والدارمي وابن ماجة وغيره ]
 “Siapa saja orangnya yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.”

Takhrij Hadits Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2133), an-Nasa’i (2/157), Tirmidzi (1/213), ad-Darimi (2/143), Ibnu Majah (1969), Ibnu Abi Syaibah (2/66/7), Ibnul Jarud (no. 722), Ibnu Hibban (no. 1307), al-Hakim (2/186), al-Baihaqi (7/297), ath-Thayalisi (no. 2454), dan Ahmad (2/347, 471) melalui jalur Hammam bin Yahya, dari Qatadah, dari an-Nadhr bin Anas, dari Basyir bin Nuhaik, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma.
Di dalam Sunan at-Tirmidzi, hadits di atas diriwayatkan dengan lafadz,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِذَا كَانَ عِنْدَ الرَّجُلِ امْرَأَتَانِ فَلَمْ يَعْدِلْ بَيْنَهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ سَاقِطٌ » [متفق عليه ]
“Apabila seorang laki-laki memiliki dua istri namun tidak berlaku adil di antara keduanya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.”

Asy-Syaikh al-Albani mengatakan, “Al-Hakim menghukumi hadits ini sahih berdasarkan syarat asy-Syaikhain (al-Bukhari & Muslim). Adz-Dzahabi dan Ibnu Daqiqil ‘Ied sepakat dengan al-Hakim, sebagaimana dinukilkan oleh al-Hafizh dalam at-Talkhis (3/201) dan beliau pun menyepakatinya.
Al-Hafizh t menambahkan bahwa al-Imam at-Tirmidzi menghukumi hadits ini gharib padahal beliau sendiri menyatakannya sahih. Abdul Haq mengatakan, ‘Hadits ini tsabit, namun ada cacatnya, yaitu Hammam sendirian meriwayatkannya.’
Asy-Syaikh al-Albani mengatakan, “Cacat semacam ini tidak membuat hadits menjadi lemah. Oleh karena itu, para ulama secara berturut-turut menyatakannya sahih.” (Silsilah ash- Shahihah no. 2017, al-Albani)

Islam Menjunjung Nilai-Nilai Keadilan  
Islam sangat menjunjung nilai-nilai keadilan. Bahkan, keadilan menjadi salah satu pilar penting bagi seorang hamba untuk mewujudkan bangunan Islam. Sikap adil, menurut asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah, adalah menunaikan hak-hak yang wajib dan memenuhi hak bagi yang memilikinya.
Ada juga yang memaknai adil sebagai sikap menentukan hukum sesuai dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam,, bukan semata-mata berdasarkan akal pikiran. Dalam memutuskan perkara, keadilan mesti menjadi landasan berpijak. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِذَا حَكَمْتُمْ فَاعْدِلُوْا » [صححه الألباني في سلسلة الأحاديث الصحيحة رقم: 469 ]
“Apabila kalian memutuskan hukum maka bersikaplah adil!” (Dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah [no. 469])

Bahkan, bagi orang tua, sikap adil haruslah mendasari setiap perhatian kepada anaknya. Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita, “Aku pernah diberi sesuatu oleh ayahku. ‘Amrah bintu Rawahah (ibunya) lantas berkata (kepada ayahku), ‘Aku tidak rela (dengan pemberian ini) sampai engkau meminta persaksian dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam,.’ Lantas ayahku menemui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, dan  menyampaikan, ‘Sesungguhnya aku memberi sesuatu kepada salah seorang anakku, anak dari ‘Amrah bintu Rawahah.
Amrah menuntutku untuk meminta Anda sebagai saksi, wahai Rasulullah.’ Rasulullah bertanya, ‘Apakah engkau memberi seluruh anakmu seperti yang engkau berikan kepada anak itu?’ Ayahku menjawab, ‘Tidak.’ Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, bersabda, 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فَاتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ » [رواه البخاري]
‘Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersikaplah adil di antara anak-anak kalian!’

Akhirnya ayahku pulang dan mengambil kembali pemberian itu.” (HR. Bukhari 5/2587)
Mengenai bentuk-bentuk keadilan, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al- ‘Utsaimin rahimahullah pernah menjelaskannya berkenaan dengan ayat Allah Subhanahu wata’ala di dalam surat an-Nahl, yaitu firman -Nya,
قال الله تعالى: ﴿ إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ٩٠ ﴾ [النحل:90]  
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”(an-Nahl: 90)

Beliau menerangkan , “Kewajiban hamba adalah bersikap adil terhadap diri sendiri, keluarga, dan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Bersikap adil terhadap diri sendiri artinya tidak memaksakan diri untuk melakukan hal-hal yang tidak diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Bahkan, ia pun harus memerhatikan diri sendiri saat melakukan kebaikan, dengan cara tidak melakukannya melebihi batas kemampuan. Oleh sebab itu, saat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma menyatakan, ‘Aku akan berpuasa terus dan tidak akan berbuka. Aku akan shalat malam terus dan tidak akan tidur’, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, memanggilnya dan melarang hal itu. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 ‘Sesungguhnya dirimu sendiri memiliki hak, Rabbmu juga memiliki hak, dan keluargamu pun memiliki hak. Maka dari itu, berikanlah hak masing-masing.’

Demikian juga seorang suami, ia harus bersikap adil di tengah-tengah keluarga. Siapa saja yang memiliki lebih dari satu istri, ia harus bersikap adil di antara para istrinya. Sebab, seorang suami yang lebih cenderung kepada salah satu istri, ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan miring sebelah tubuhnya.
Sikap adil juga wajib diwujudkan di antara anak-anak. Jika Anda memberi satu real kepada salah seorang di antara mereka, berikan juga senilai itu kepada yang lain. Jika engkau memberi dua real kepada anak laki-laki, berikanlah satu real kepada anak perempuan. Jika engkau memberikan satu real kepada anak laki-laki, berikanlah setengah real kepada anak perempuan.
Bahkan, ulama salaf memerhatikan sikap adil di antara anak-anak dalam hal ciuman. Jika ia mencium anaknya yang masih kecil sementara kakaknya ada di situ, ia pun menciumnya juga. Jadi, ia tidak membeda-bedakan di antara mereka dalam hal ciuman. Demikian juga dalam hal berbicara, Jangan sampai Anda berbicara dengan seorang anak dengan nada yang kasar, sedangkan kepada anak yang lain dengan nada yang lembut. Sikap adil harus juga dijunjung kepada orang-orang yang berhubungan dengan kita. Jangan Anda berpihak kepada seseorang hanya karena ia adalah kerabat, orang kaya, orang fakir, atau seorang teman. Jangan berpihak kepada seseorang, semua orang sama kedudukannya.
Sesungguhnya para ulama rahimahumullah mengatakan, ‘Harus bersikap adil kepada dua orang yang sedang berseteru, jika mereka berhukum kepada seorang hakim, dalam hal tutur kata, perhatian, pembicaraan, tempat duduk, dan cara masuknya. Jangan engkau memandang kepada salah satunya dengan pandangan marah, namun kepada yang lain dengan pandangan senang.
Jangan engkau berbicara dengan nada lembut kepada salah seorang di antara mereka, namun kepada yang lain sebaliknya. Jangan sampai Anda bertanya kepada salah seorang di antara mereka, ‘Apa kabarmu? Apa kabar keluargamu? Bagaimana kabar anak-anakmu?’, namun orang kedua engkau biarkan tanpa pertanyaan. Bersikaplah adil di antara keduanya. Sampai serinci ini. Demikian juga dalam hal tempat duduk. Jangan Anda mempersilakan salah seorang darinya duduk dekat di sebelah kananmu sementara yang lain berada jauh darimu.
Namun, posisikan mereka berdua di hadapanmu dalam garis yang sama. Bahkan, jika ada seorang muslim bertengkar dengan orang kafir di hadapan seorang hakim, ia harus bersikap adil di antara keduanya dalam pembicaraan, cara memandang, dan posisi duduk. Jangan sampai ia mengatakan kepada si muslim, ‘Kemarilah!’ sementara si kafir diposisikan jauh. Namun, ia harus memberikan tempat yang sama. Kesimpulannya, sikap adil harus dijunjung dalam segala hal. (Syarah Riyadhus Shalihin, al-Utsaimin)

Bersikap Adil kepada Istri
Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menerangkan makna hadits di atas, “… Dengan bersikap adil kepada para istri dalam hal giliran bermalam, nafkah, dan pergaulan. Adapun perasaan yang ada di dalam hati, hal ini di luar kemampuan manusia dan dikembalikan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Meski demikian, seorang suami tidak boleh bersikap lebih cenderung kepada istri yang paling ia sayangi dan cintai. Ia harus bersikap adil dalam hal giliran bermalam, nafkah, dan segala sesuatu yang ia mampu.
Adapun perasaan di hati, tidak ada yang mampu menentukannya selain Allah Subhanahu wata’ala. Akan tetapi, tidak sepantasnya seorang suami lebih condong kepada salah seorang istrinya. Yang seharusnya ia lakukan adalah memenuhi hak masing-masing tanpa menyakiti istri yang lain.
Membagi di antara istri dilakukan sebatas kemampuan yang ia miliki. Jika ada kecenderungan kepada salah seorang istri, hendaknya ia tetap bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala agar sikap tersebut tidak mendorongnya untuk menghilangkan atau mengurangi hak istri lainnya, atau hanya memberikan sedikit saja dari hak mereka padahal ia mampu. 
Kewajiban suami adalah bersikap adil dan seimbang di antara para istri.”
Asy – Syaikh Abdu l Muhsin melanjutkan, “Abu Dawud membawakan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu di atas untuk menunjukkan bahwa balasan yang diperoleh seorang hamba sesuai dengan jenis amalan yang ia perbuat.
Pada hari kiamat kelak, ia datang dengan sebelah tubuh yang miring karena saat di dunia ia lebih condong kepada salah seorang istri. Hal ini berlaku pada hal-hal yang sebenarnya ia mampu untuk bersikap adil, namun ia justru bersikap tidak sepantasnya. Orang semacam ini akan datang pada hari kiamat kelak dengan sebelah tubuh yang miring.” (Syarah Abu Dawud, al-Abbad)
Oleh sebab itu, seorang muslim yang memiliki lebih dari seorang istri harus benar-benar berjuang untuk bersikap adil. Alangkah beratnya hukuman dari Allah Subhanahu wata’ala yang harus dijalani pada hari kiamat nanti apabila sikap adil tersebut tidak diupayakan dengan maksimal. Dalam hal-hal yang dapat diberlakukan sikap adil, seorang suami harus mampu memberikannya.
Apabila kepada salah seorang istri ia dapat bersikap romantis dengan kata-kata dan wajah berseri, kepada istri yang lain pun harus bersikap demikian. Memberikan waktu senggang untuk berbincang-bincang harus dapat terwujud kepada semua istri. Hadiah tidak hanya diberikan kepada salah seorang istri, namun kepada seluruh istri. Demikian pula halnya perhatian kepada anak-anaknya, haruslah sama antara anak dari istri yang satu dengan istri lainnya.
Perhatikanlah teladan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam! Betapa pun dirasa berat, beliau tetap berjuang untuk bersikap adil. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, tetap memerhatikan waktu menggilir meskipun beliau sedang sakit. Padahal keadaan beliau benar-benar payah. Al – Imam al – Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari ‘Aisyah Rhadiyallahu ‘anhum bahwa pada saat sakit yang berujung wafatnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selalu menanyakan,
أَيْنَ أَنَا غَدًا، أَيْنَ أَنَا غَدًا؟
“Di manakah aku besok? Di manakah aku besok?”
Beliau berharap di rumah Aisyah radhiyallahu ‘anha. Istri-istri beliau yang lain pun mengizinkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berada di rumah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sampai meninggalnya. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata kepada Urwah bin az-Zubair rahimahullah, “Dahulu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak melebihkan salah seorang di antara kami (para istri) dalam jadwal giliran bermalam.
Dahulu, kebiasaan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, jarang sekali hari berlalu kecuali beliau pasti berkeliling di antara kami semua. Beliau mendekati tiap istri tanpa berhubungan sampai pada istri yang memiliki giliran lalu menginap (bermalam) di sana. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, ”Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di antara ulama  tentang wajibnya menggilir dan kesamaan waktu untuk menggilir di antara para istri.”
Adapun dalam hal besar kecilnya rasa cinta dan ketertarikan untuk berhubungan badan, hal ini di luar kemampuan hamba. sebagaimana tercelanya orang yang memakai dua potong pakaian kedustaan(al-Minhaj, 14/336)
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memberikan permisalan seperti dalam hadits di atas agar para perempuan menjauhi perbuatan tersebut, karena akibat yang ditimbulkannya tidaklah remeh. Perbuatan itu bisa merusak hubungan suami dengan si madu yang dipanas-panasi dan bisa membuat kebencian di antara keduanya, sehingga perbuatan tersebut seperti sihir yang bisa memisahkan antara suami dan istrinya. (Fathul Bari 9/394—395) Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(www.islamhouse.com)

Kiat Menjadi Pribadi Yang Bekemauan Kuat



       Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah semata yang tidak ada sekutu bagiNya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusanNya. Amma ba'du:
       Diantara sekian banyak sifat terpuji yang sangat dianjurkan oleh syari'at kita ialah 'kemauan yang kuat', artinya yaitu mempersiapkan akal dan jiwa dengan kuat sambil di iringi kemauan untuk mengerjakan atau meninggalkan suatu perbuatan.  
       Itulah yang dinamakan dengan kemauan yang kuat, dimana pelakunya mampu menahan beban kesulitan dan menerjang tantangan demi tercapainya apa yang diinginkan. Seorang penyair melantunkan qasidahnya dalam bait syairnya:

Beban musibah akan terasa sulit dan pahit
                     Dan tidak mudah hilang kecuali bagi orang yang sabar

        Dan sifat penyabar ini tidak mungkin direngkuh melainkan oleh orang-orang sukses dari kalangan orang yang punya kemauan dan keinginan yang kuat. Allah tabaraka wa ta'ala berfirman kepada NabiNya Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam:

﴿ فَٱصۡبِرۡ كَمَا صَبَرَ أُوْلُواْ ٱلۡعَزۡمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ ٣٥﴾ [ الأحقاف : 35] 

"Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari para Rasul yang telah bersabar".  (QS al-Ahqaf: 35).

      Sehingga orang yang mempunyai keinginan serta kemauan kuat bisa merengkuh apa yang di inginkan yang barangkali hal itu suatu yang mustahil bagi selain mereka. Al-Mutanabi mengatakan dalam bait syairnya:

Cita-cita kalau dilihat orang yang kuat
                                      Akan menjadi kenyataan

Namun, bila yang melihat orang yang lemah
                                  Sesuatu yang mudahpun akan terasa sulit

       Sebaliknya, orang yang rendah kemauan, biasanya tidak banyak dapat mewujudkan keinginannya, dirinya enggan untuk mengejar target impiannya. Tatkala mereka punya cita-cita justru yang dilihat adalah orang yang gagal, kemudian melihat bencana dan musibah yang menimpanya, sehingga hal tersebut menjadikan dirinya loyo untuk mengejar keinginannya. Lebih payah lagi, kalau dirinya lebih senang untuk memanjakan diri sendiri dari pada berpikir bagaimana cara memperoleh impiannya. Seorang penyair mengatakan:

Siapa orangnya yang mengejar impian tanpa berusaha
           Sama saja, dengan membuang umur untuk perkara yang mustahil

Ingin mulia namun enggan untuk mencari
             Sedangkan orang cari mutiara juga harus menyelam

       Ada banyak sekali dalam lembaran al-Qur'an, dimana Allah ta'ala memuji mereka-mereka yang mempunyai keinginan yang kuat dan cita-cita yang tinggi, ambil satu contoh saja, firmanNya Allah ta'ala kepada kita tentang kisahnya para Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, sebagai bentuk suri tauladan yang harus selalu kita garis bawahi sebagai bekal hidup. Allah ta'ala berfirman:

﴿ وَٱذۡكُرۡ عِبَٰدَنَآ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ أُوْلِي ٱلۡأَيۡدِي وَٱلۡأَبۡصَٰرِ ٤٥ ﴾ [ص: 45] 

"Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi".  (QS Shaad: 45).

Dan Allah ta'ala juga mewasiatkan kepada NabiNya Yahya 'alaihi sallam agar memegangi akhlak yang satu ini, lebih jelasnya lihat firmanNya tabaraka wa ta'ala:

﴿ يَٰيَحۡيَىٰ خُذِ ٱلۡكِتَٰبَ بِقُوَّةٖۖ ١٢ ﴾ [ مريم: 12] 

"Hai Yahya, ambillah Al kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh".  (QS Maryam: 12).

       Perintah yang sama juga Allah ta'ala tujukan kepada nabiNya, Isa 'alaihi sallam tatkala menurunkan Taurat kepadanya, Allah ta'ala berfirman:

﴿ فَخُذۡهَا بِقُوَّةٖ وَأۡمُرۡ قَوۡمَكَ يَأۡخُذُواْ بِأَحۡسَنِهَاۚ ١٤٥ ﴾ [ الأعراف: 145] 

"Maka (kami berfirman): "Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya.  (QS al-A'raaf: 145).

      Demikian juga perintah secara umum pada kita semua selaku penganut umatnya Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam. Allah ta'ala berfirman:

﴿ خُذُواْ مَآ ءَاتَيۡنَٰكُم بِقُوَّةٖ ١٧١  ﴾ [ الأعراف: 171] 
"(Dan Kami katakan kepada mereka): "Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu". (QS al-A'raaf: 171).

      Dan Allah azza wa jalla telah mengabarkan pada kita, kisah bapak kita Adam 'alaihi sallam. Dimana Allah ta'ala memasukkan beliau kedalam surga serta memberi ijin untuk menikmati segala macam bentuk kesenangan, kecuali satu pohon, dimana Allah melarang supaya jangan sampai memakannya. Maka, datanglah iblis membisikkan padanya, serta memberi janji-janji palsu dan menipunya hingga prinsip teguh yang dipegang oleh Adam didalam mematuhi perintah Allah melemah sampai mengurai kekuatannya, lalu akhirnya diapun memakan pohon tersebut. selanjutnya, dia memperoleh balasan dengan dikeluarkan dari surga, negeri penuh nikmat dan kesenangan. Lalu diturunkan ke negeri yang penuh dengan cobaan, kesedihan, kegundahan dan kekhawatiran. Dan dalam hal ini, Allah ta'ala menyatakan dalam firmanNya:
﴿ وَلَقَدۡ عَهِدۡنَآ إِلَىٰٓ ءَادَمَ مِن قَبۡلُ فَنَسِيَ وَلَمۡ نَجِدۡ لَهُۥ عَزۡمٗا ١١٥ ﴾ [ طه: 115] 

"Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, Maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat".  (QS Thahaa: 115).

       Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam sendiri telah mengilustrasikan secara gamblang gambaran orang yang punya keinginan yang kuat serta melaksanakan kemauan yang teguh pada dirinya. Dalam sebuah hadits dijelaskan, Telah datang orang kafir Quraisy kepada pamannya Abu Thalib, seraya mengultimatum: 'Wahai Abu Thalib, bukankah engkau telah melihat pada Muhammad yang telah menyakiti kita didepan khalayak, dan didalam masjid kita, cegahlah dirinya agar tidak menyakiti kami lagi'. 
       Abu Thalib adalah orang yang bijak, maka beliau menyuruh anaknya Aqil untuk memanggil keponakannya Muhammad, datangkan wahai Aqil Muhammad, perintah Abu Thalib pada Aqil. Bergegas Aqil memanggil Muhammad, setelah sampai dihadapannya, pamannya berbicara: 'Duhai anak suadaraku! Sesungguhnya anak pamanmu mengadu padaku, kalau dirimu telah menganggu mereka didepan khalayak dan dalam masjid mereka, maka jangan engkau lakukan lagi'. 
      Maka Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam memperhatikan (dalam salah satu riwayat diterangkan, memandang secara lekat dengan pandangannya) ke langit, lalu berkata: 'Aku tidak akan berhenti dari perkara ini walau kalian taruh matahai dipundakku'. Maka Abu Thalib mengatakan: 'Demi Allah, tidak pernah sekalipun keponakanku berdusta, lalu beliau menyuruh kaumnya kembali'.  

       Dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Ahmad, dari Miswar bin Makhramah serta Marwan bin al-Hakam, disebutkan bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam berkata manakala terjadi perjanjian Hudaibiyah: 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا وَيْحَ قُرَيْشٍ لَقَدْ أَكَلَتْهُمْ الْحَرْبُ مَاذَا عَلَيْهِمْ لَوْ خَلَّوْا بَيْنِي وَبَيْنَ سَائِرِ النَّاسِ فَإِنْ أَصَابُونِي كَانَ الَّذِي أَرَادُوا وَإِنْ أَظْهَرَنِي اللَّهُ عَلَيْهِمْ دَخَلُوا فِي الْإِسْلَامِ وَهُمْ وَافِرُونَ وَإِنْ لَمْ يَفْعَلُوا قَاتَلُوا وَبِهِمْ قُوَّةٌ فَمَاذَا تَظُنُّ قُرَيْشٌ وَاللَّهِ إِنِّي لَا أَزَالُ أُجَاهِدُهُمْ عَلَى الَّذِي بَعَثَنِي اللَّهُ لَهُ حَتَّى يُظْهِرَهُ اللَّهُ لَهُ أَوْ تَنْفَرِدَ هَذِهِ السَّالِفَةُ » [أخرجه البخاري]

"Sungguh celaka kalian wahai Quraisy, kalian telah termakan oleh perang, kenapa kalian tidak biarkan urusanku dengan manusia, jika mereka bisa mengalahkanku maka itulah yang mereka inginkan, dan jika Allah menghendaki untuk menampakan kemenanganku atas mereka maka mereka akan masuk Islam secara berbondong-bondong, dan kalau sekiranya mereka enggan, maka mereka akan berhadapan dengan orang yang punya kekuatan. Apalagi yang kalian sangka wahai Quraisy! 
         Demi Allah, aku akan selalu berjihad untuk menyebarkan apa yang Allah utus pada diriku sampai kiranya Allah menampakannya dimuka bumi atau sampai akhirnya aku menemui kematian". HR Bukhari no: 2731-2732. Ahmad 31/211 no: 18910. 

       Diantara kisah orang yang punya kemauan kuat yang tertulis dalam sejarah dan patut disyukuri ialah sikap Abu Bakar shidiq radhiyallahu 'anhu dalam kisah yang masyhur setelah kematian Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, yaitu tatkala sebagian kabilah arab murtad dari Islam dengan enggan untuk membayar zakat serta berbuat kemunafikan. Untuk itu Aisyah mengatakan: "Kalau seandainya dirinya dihadapkan dengan sebuah gunung yang kokoh, tentu beliau tidak melewati kecuali setelah meratakannya". 
        Sehingga, ada ucapan beliau yang sangat terkenal, yang selalu dikenang oleh umat, yaitu: "Sungguh aku pasti akan memerangi orang yang membedakan antara sholat dan zakat. Sesungguhnya zakat adalah haknya harta, demi Allah kalau seandainya mereka enggan mengeluarkan zakat yang dulu pernah mereka keluarkan kepada Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallam, tentu aku akan perangi mereka". HR Bukhari no: 1400 dan Muslim no: 20.

       Kemudian, diantara kisah yang terkenal pula adalah kisahnya Imam Ahmad bin Hanbal semoga Allah merahmatinya tentang sikap beliau ketika terjadi fitnah besar yang mengatakan al-Qur'an adalah makhluk. Dan juga kisah-kisah lainnya dari para ulama yang menjelaskan ketinggian kemauan yang mereka miliki, yang bertebaran dalam buku-buku biografi dan sejarah. 

Catatan yang perlu digaris bawahi:

1. Kemauan yang kuat itu ada yang terpuji dan ada yang tercela. Adapun yang tercela adalah manakala dia lebih mementingkan pada perkara-perkara yang tidak bisa meraih keridhoan Allah atau mendahulukan perkara duniawi daripada ukhrawi. Sedangkan yang terpuji adalah kebalikan dari itu semua. Dan kami telah jelaskan bahwa dalam hal ini ada dua rukun yang tidak boleh timpang, yaitu ketakwaan dan kesabaran, dalilnya:

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

﴿ وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ١٨٦ ﴾ [ آل عمران: 186] 

"Jika kamu bersabar dan bertakwa, Maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan".  (QS al-Imraan: 186).

        Sedangkan dalam ketakwaan maka harusnya dibarengi dengan adanya ilmu, hal tersebut seperti yang Allah jelaskan dalam firmanNya:

﴿ وَٱذۡكُرۡ عِبَٰدَنَآ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ أُوْلِي ٱلۡأَيۡدِي وَٱلۡأَبۡصَٰرِ ٤٥ ﴾ [ص: 45] 
"Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi".  (QS Shaad: 45). Orang yang punya ilmu akan terang didalam menjalankan agama.

2. Bagi orang yang dikaruniai oleh Allah kemauan yang kuat, hendaknya ia mengetahui bahwa hal itu adalah karunia dari Allah azza wa jalla. Serta nikmat yang Allah berikan padanya, yang dengan itu, seharusnya disyukuri dan mengetahui darimana datangnya nikmat tersebut. inilah, yang menjadi petunjuk seperti yang dijelaskan dalam al-Qur'an, Allah ta'ala berfirman:

﴿ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ ١٥٩ ﴾ [ آل عمران: 159] 

"Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya".  (QS al-Imraan: 159).

3. Hati-hati dari sikap plin plan, dan biasanya hal itu muncul karena dipicu oleh minimnya ilmu. Oleh karena itu, apabila sudah menentukan pilihan yang dia targetkan hendaknya berusaha untuk mengerjakan jangan bimbang dan ragu. Seorang penyair mengatakan:

Jika engkau punya otak cemerlang, banyaklah bercita-cita
                         Dan tanda otak yang cekak ialah suka berkelu kesah

Tatkala akan turun perang Uhud, Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam punya pendapat untuk tetap tinggal di madinah dan menghadapi kaum musyrikin dari dalam. Namun, manakala banyak para pemuda dari kalangan sahabat yang berkemauan untuk menghadapi mereka diluar kota, maka Nabi memakai baju perangnya. Ketika diisyaratkan untuk melepasnya, maka beliau enggan dan mengatakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّهُ لَيْسَ لِنَبِيٍّ إِذَا لَبِسَ لَأْمَتَهُ أَنْ يَضَعَهَا حَتَّى يُقَاتِلَ » [أخرجه أحمد]

"Sesungguhnya tidak layak bagi seorang Nabi, yang telah memakai baju perangnya kemudian dia tanggalkan hingga dia berangkat jihad". HR Ahmad 23/100 no: 14787.

       Inilah akhir dari kajian kita, dan kita ucapkan segala puji bagi Allah, Rabb seluruh makhluk. Shalawat serta salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad, pada keluarga beliau serta para sahabatnya.

(www.islamhouse.com)

Ibrah dari Kisah “Nabi Musa ‘Alaihissalam Menerima Taurat

Menuju Bukit Thursina
Setelah Allah Subhanahu wata’ala menyempurnakan nikmat -Nya kepada bani Israil dengan menyelamatkan mereka dari musuh mereka dan memberi kekuasaan kepada mereka, Allah Subhanahu wata’ala hendak melengkapi kenikmatan tersebut dengan menurunkan sebuah kitab yang berisi hukum-hukum syariat dan keyakinan yang diridhai.
Allah Subhanahu wata’ala pun menjanjikan kepada Nabi Musa ’Alaihissalam tiga puluh malam dan menggenapinya menjadi empat puluh malam. Semua itu agar Nabi Musa ‘Alaihissalam menyiapkan diri untuk menerima janji Allah Subhanahu wata’ala dan supaya turunnya kitab itu menimbulkan kesan dan kerinduan yang luar biasa dalam hati mereka.
Sebelum berangkat, Nabi Musa ’Alaihissalam berpesan kepada Nabi Harun ’Alaihissalam agar menggantikannya membimbing bani Israil. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
قال الله تعالى: ﴿۞وَوَٰعَدۡنَا مُوسَىٰ ثَلَٰثِينَ لَيۡلَةٗ وَأَتۡمَمۡنَٰهَا بِعَشۡرٖ فَتَمَّ مِيقَٰتُ رَبِّهِۦٓ أَرۡبَعِينَ لَيۡلَةٗۚ وَقَالَ مُوسَىٰ لِأَخِيهِ هَٰرُونَ ٱخۡلُفۡنِي فِي قَوۡمِي وَأَصۡلِحۡ وَلَا تَتَّبِعۡ سَبِيلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴾ [الأعراف: ١٤٢]
“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), lalu sempurnalah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya, yaitu Harun, ‘Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan’.” (al-A’raf: 142)

Sempurnalah waktu yang dijanjikan itu empat puluh hari, dan selama waktu tersebut Nabi Musa ’Alaihissalam berpuasa siang dan malam. Kemudian, beliau  bergegas mendahului kaumnya menuju Bukit Thur dan meninggalkan Nabi Harun ’Alaihissalam memimpin bani Israil, sementara di situ juga ada Samiri. Oleh sebab itulah, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
قال الله تعالى: ﴿۞وَمَآ أَعۡجَلَكَ عَن قَوۡمِكَ يَٰمُوسَىٰ ٨٣ ﴾ [طه: 83]
 “Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?” (Thaha: 83)

Mengapa kamu tidak datang bersama kaummu? Nabi Musa berkata (sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala),
قال الله تعالى: ﴿ قَالَ هُمۡ أُوْلَآءِ عَلَىٰٓ أَثَرِي وَعَجِلۡتُ إِلَيۡكَ رَبِّ لِتَرۡضَىٰ ٨٤  ﴾ [طه: ٨٤]
 “Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepada-Mu. Wahai Rabbku, agar Engkau ridha (kepadaku).” (Thaha: 84)

Sepeninggal Nabi Musa ‘Alaihissalam, bani Israil masih sabar menunggu selama beberapa hari. Sudah hampir sebulan, Nabi Musa ’Alaihissalam belum juga kembali membawa Taurat yang dijanjikan. Mereka mulai gelisah, kembali mereka menghitung hari. Nabi Harun ’Alaihissalam yang menggantikan saudaranya memimpin bani Israil berkata kepada bani Israil, “Hai bani Israil, kalian tidak halal memakan rampasan perang (ghanimah), sedangkan perhiasan bangsa Mesir yang kalian bawa adalah ghanimah. Kumpulkanlah dan timbunlah dalam tanah. Kalau Musa datang dan menghalalkannya, ambillah, tetapi kalau tidak, itu adalah sesuatu yang tidak boleh kalian makan.”
Mereka mengumpulkan dan menimbunnya dalam tanah. Datanglah Samiri membawa bekas jejak kaki kuda Jibril lalu melemparkannya ke tumpukan perhiasan tersebut. Dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, tumpukan itu menjadi seekor anak lembu yang bersuara. Beberapa hari kemudian, keluarlah anak lembu itu. Begitu melihatnya, Samiri berkata kepada mereka, “Inilah ilah Musa dan kalian, tetapi dia lupa.” Akhirnya, mereka tirakat di sekitar anak lembu itu dan mulai beribadah kepadanya.
Nabi Harun ’Alaihissalam dengan penuh kasih sayang terus mengingatkan mereka, “Hai kaumku, kalian sedang diuji dengan anak lembu itu. Ingatlah, Rabb kalian adalah Ar-Rahman. Ikutilah aku!” Dengan gigih, tanpa henti, Nabi Harun ’Alaihissalam bersama mereka yang masih terjaga fitrahnya berusaha menyadarkan kaum mereka. Tetapi, bukannya sadar, mereka bahkan hampir membunuh Nabi Harun ‘Alaihissalam. Mereka menegaskan kepada Nabi Harun (sebagaimana dalam ayat),
قال الله تعالى: ﴿ قَالُواْ لَن نَّبۡرَحَ عَلَيۡهِ عَٰكِفِينَ حَتَّىٰ يَرۡجِعَ إِلَيۡنَا مُوسَىٰ ﴾ [طه: ٩١]
“Mereka menjawab, ‘Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami’.” (Thaha: 91)

Akhirnya bani Israil terpecah. Sebagian dari mereka mengingkari perbuatan tersebut, yaitu Nabi Harun dan 12.000 orang bani Israil, selebihnya mengikuti Samiri, menari-nari di sekeliling anak lembu tersebut. Sementara itu, Nabi Musa ’Alaihissalam sudah tiba di tempat yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قال الله تعالى: ﴿ وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا  ﴾ [الأعراف: ١٤٣]
“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan.” (al-A’raf: 143)

untuk menurunkan kitab kepadanya,
قال الله تعالى: ﴿ وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ﴾
“dan Rabbnya mengajaknya berbicara (langsung),”

memberikan wahyu, perintah dan larangan. Dalam ayat ini sangat jelas bahwa Nabi Musa ’Alaihissalam diajak bicara oleh Allah Subhanahu wata’ala, sesampainya beliau di Thursina. Nabi Musa ’Alaihissalam mendengarnya dari Allah Subhanahu wata’ala, bahkan dalam ayat lain (an-Nisa’ ayat 164), Allah Subhanahu wata’ala mempertegasnya dengan mashdar muakkidah; . تَكْلِيماً Ayat ini membantah keyakinan mu’aththilah yang menolak adanya sifat-sifat Allah Subhanahu wata’ala. Sebagian mereka dengan berani mengubah harakat i’rab dalam firman Allah Subhanahu wata’ala (an-Nisa’ ayat 164) sehingga mengubah maknanya, yang mengajak bicara adalah Nabi Musa ‘Alaihissalam. Bahkan, ada pula di antara mereka yang menemui Abu ‘Amr Ibnul ‘Ala’— salah seorang ahli qiraah sab’ah (tujuh bacaan al-Qur’an)—agar membacanya dengan memfathahkan lafzhul jalalah sehingga menjadi wa kallamallaha Musa takliima (maknanya, Musa mengajak bicara Allah).
Abu ‘Amr menjawab, “Baiklah, anggaplah saya baca seperti yang kau inginkan, lalu bagaimana kau berbuat dengan firman Allah Subhanahu wata’ala,
قال الله تعالى: ﴿ وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ  ﴾ [الأعراف: ١٤٣]  
“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan, dan Rabbnya mengajaknya berbicara (langsung),” (al-A’raf: 143)

Seketika, terdiamlah orang Mu’tazilah itu. Sama seperti itu juga, bagaimana pula dia memahami firman Allah Subhanahu wata’ala,

قال الله تعالى: ﴿    • •﴾ [النازعات:16]
“Tatkala Rabbnya memanggilnya di lembah suci, Lembah Thuwa.” (an- Nazi’at: 16)

Apakah dia akan menashabkan kata Rabb (memberi harakat fathah) pada kedua ayat yang mulia ini? Ayat-ayat ini menegaskan bahwa Nabi Musa ’Alaihissalam mendengar Kalam Allah Subhanahu wata’ala langsung dari Allah Subhanahu wata’ala, bukan dari pohon, batu, atau yang lainnya. Seandainya Nabi Musa ’Alaihissalam mendengar dari selain Allah Subhanahu wata’ala; dari pohon atau batu, atau yang lainnya, niscaya tidak ada kelebihan dan keutamaan beliau dari nabi yang lain, bahkan dari bani Israil. Mengapa? Karena bani Israil mendengar Kalam Allah Subhanahu wata’ala langsung dari Nabi Musa ‘Alaihissalam; seutama-utama manusia yang mendengar dari Allah Subhanahu wata’ala pada masa itu. Akan tetapi—menurut kaum Mu’tazilah—Nabi Musa ’Alaihissalam mendengarnya bukan dari Allah Subhanahu wata’ala, melainkan dari pohon!?
Ayat ini menunjukkan pula bahwa Kalam Allah Subhanahu wata’ala itu adalah suara dan huruf, yang sesuai dengan kemuliaan dan kesempurnaan -Nya, bukan makna atau pikiran yang ada di dalam diri Allah Subhanahu wata’ala. Sebab, kalau Kalam Allah Subhanahu wata’ala adalah buah pikiran atau sesuatu yang ada di dalam diri Allah Subhanahu wata’ala, niscaya Nabi Musa ’Alaihissalam tidak dapat mendengarnya, dan tidak akan digelari Kalimur Rahman.
Ibnu Hajar asy-Syafi’i rahimahullah dalam Syarah Shahih al-Bukhari menegaskan bahwa siapa yang menafikan suara dia harus menerima bahwa itu berarti Allah Subhanahu wata’ala tidak memperdengarkan Kalam- Nya kepada siapa saja, baik malaikat- Nya maupun para rasul -Nya, tetapi mengilhamkan kepada mereka Kalam tersebut. Dalam bagian lain di kitab itu juga, beliau menegaskan bahwa suara adalah sifat Dzat -Nya, tidak serupa dengan suara makhluk -Nya. Wallahu a’lam.
Kita kembali kepada kisah ini. Setelah mendengar Kalam Allah Subhanahu wata’ala, menerima penghargaan yang demikian tinggi, dipilih oleh Allah Subhanahu wata’ala, Nabiyullah Musa ’Alaihissalam semakin rindu kepada Allah Subhanahu wata’ala. Akhirnya, beliau berkata (sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala),
قال الله تعالى: ﴿ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ  ﴾ [:]
“Wahai Rabbku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat -Mu.”

Sebuah permintaan yang wajar dan bukan terlarang. Akan tetapi, tentu saja tidak di dunia. Oleh sebab itulah, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قال الله تعالى: ﴿ قَالَ لَن تَرَانِي وَلَٰكِنِ انظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ﴾ [:]
“Allah berfirman, ‘Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat -Ku, tetapi lihatlah ke bukit itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya kamu dapat melihat -Ku’.”

Dengan penuh ketundukan dan harap, Nabi Musa ’Alaihissalam memandang gunung besar yang ada di dekatnya, apa yang terjadi? Ternyata gunung itu hancur luluh dan Nabi Musa ’Alaihissalam pingsan. Itulah firman Allah Subhanahu wata’ala, “Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.”

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قال الله تعالى: ﴿ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴾ [الأعراف: ١٤٣]

“Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, ‘Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman’.” (al-A’raf: 143)


Setelah itu Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
قال الله تعالى: ﴿ قَالَ يَٰمُوسَىٰٓ إِنِّي ٱصۡطَفَيۡتُكَ عَلَى ٱلنَّاسِ بِرِسَٰلَٰتِي وَبِكَلَٰمِي فَخُذۡ مَآ ءَاتَيۡتُكَ وَكُن مِّنَ ٱلشَّٰكِرِينَ  وَكَتَبۡنَا لَهُۥ فِي ٱلۡأَلۡوَاحِ مِن كُلِّ شَيۡءٖ مَّوۡعِظَةٗ وَتَفۡصِيلٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ فَخُذۡهَا بِقُوَّةٖ وَأۡمُرۡ قَوۡمَكَ يَأۡخُذُواْ بِأَحۡسَنِهَاۚ سَأُوْرِيكُمۡ دَارَ ٱلۡفَٰسِقِينَ  ﴾ [الأعراف: ١٤٤-١٤٥]
“Allah berfirman, ‘Hai Musa, sesungguhnya aku memilih (melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah -Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.’ Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu.” (al-A’raf: 144—145)

Allah Subhanahu wata’ala memilih dan mengutamakan beliau dari sekalian manusia pada masa itu, tidak mencakup masa sebelum atau sesudahnya. Hal itu karena sebelum beliau, yang paling utama adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, sedangkan sesudah beliau adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam,.
Dalam riwayat yang sahih disebutkan bahwa salah satu keistimewaan Taurat adalah dia ditulis sendiri oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan kedua Tangan -Nya yang mulia.

(Sumber : www.islamhouse.com)

Buah Keimanan



Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.
Keimanan yang benar memiliki banyak faedah dan buah terhadap kalbu, badan, ketenteraman, dan kehidupan yang baik di dunia serta akhirat, baik dalam waktu yang dekat maupun yang akan datang.
1. Buah keimanan yang paling besar adalah mendapatkan kebahagiaan sebagai wali Allah Shubhanahu wa ta’alla yang khusus. Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman: 
قال الله تعالى: ﴿ أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ٦٢ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ ٦٣  ﴾ [ يونس : 62-63]  
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus: 62—63).
Setiap mukmin yang bertakwa adalah wali Allah Shubhanahu wa ta’alla yang khusus. Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman tentang mereka:
قال الله تعالى: ﴿ ٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَوۡلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّٰغُوتُ يُخۡرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَٰتِۗ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ٢٥٧ ﴾ [ البقرة: 257]  

“Allah adalah wali orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (al-Baqarah: 257).

Maksudnya, Allah Shubhanahu wa ta’alla akan mengeluarkan mereka dari kegelapan kekafiran menuju cahaya keimanan, dari kegelapan kebodohan menuju cahaya ilmu, dari kegelapan maksiat menuju cahaya ketaatan, dan dari kegelapan kelalaian menuju cahaya kesadaran dan ingat. Ringkasnya, Allah Shubhanahu wa ta’alla akan mengeluarkan mereka dari kegelapan berbagai kejelekan menuju cahaya-cahaya kebaikan, dalam waktu yang dekat atau yang akan datang. Sesungguhnya mereka mendapatkan anugerah yang besar ini karena mereka memiliki keimanan yang benar dan mewujudkannya dengan ketakwaan. Sungguh, takwa merupakan kesempurnaan iman.
2. Berbahagia karena mendapatkan keridhaan Allah Shubhanahu wa ta’alla dan jannah (surga)-Nya. Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:
3. “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla; 
قال الله تعالى: ﴿ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ٧١ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةٗ فِي جَنَّٰتِ عَدۡنٖۚ وَرِضۡوَٰنٞ مِّنَ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ٧٢ ﴾ [ التوبة : 71- 72 ]  
sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (at-Taubah: 71—72)
Mereka mendapatkan ridha Rabb mereka dan rahmat-Nya serta keberuntungan berupa tempat tinggal yang baik karena keimanan mereka. Dengan keimanan itu pula mereka menyempurnakan diri mereka dan orang lain dengan cara menegakkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-nya serta beramar ma’ruf nahi mungkar.
4. Iman yang sempurna akan menghalangi mereka dari masuk neraka. Adapun iman, walaupun sedikit, akan menghalanginya dari kekekalan di dalam neraka.
5. Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menolong orang-orang mukmin dari segala hal yang tidak disukai dan akan menyelamatkan mereka (memberi jalan keluar) dari segala kesulitan.
Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:
قال الله تعالى: ﴿ ۞إِنَّ ٱللَّهَ يُدَٰفِعُ عَنِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٖ كَفُورٍ ٣٨ ﴾ [ الحج: 38 ]  
“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.” (al-Hajj: 38).
Artinya, Allah Shubhanahu wa ta’alla akan membela mereka dari setiap hal yang tidak mereka sukai, kejelekan setan dari kalangan jin dan manusia, musuh-musuh, dan hal-hal yang tidak disukai, sebelum menimpa mereka atau meringankannya setelah menimpa mereka.
Allah menyebutkan keadaan Nabi Yunus Rhadiyallahu ‘anhum:
Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap bahwa.
قال الله تعالى: ﴿ وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبٗا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقۡدِرَ عَلَيۡهِ فَنَادَىٰ فِي ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٨٧ فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَنَجَّيۡنَٰهُ مِنَ ٱلۡغَمِّۚ وَكَذَٰلِكَ نُ‍ۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٨٨﴾ [الأنبياء: 87-88 ]  
“Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (al-Anbiya: 87—88).

Allah Shubhanahu wa ta’alla juga berfirman dalam surah ath-Thalaq ayat 2:
قال الله تعالى: ﴿ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢  ﴾ [الطلاق: 2]   

“Barang siapa bertakwa kepada Allah…”, dengan menjalankan keimanan dan konsekuensinya, maka: “Allah akan menjadikan baginya jalan keluar.”

Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman pula:
قال الله تعالى: ﴿ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ يُسۡرٗا ﴾ [الطلاق: 4]  

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (ath-Thalaq: 4) 
Wallahu a’lam

Sumber bacaan: 
Syajaratul Iman karya asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di hlm. 43—46 dengan sedikit perubahan At-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman

Balasan Itu Sesuai dengan Amalan



Khutbah Pertama:

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي وَعَدَ الْمُطِيعِيْنَ لَهُ وَلِرَسُوْلِهِ أَجْرًا عَظِيْمًا، وَأَعَدَّ لِلْمُعْرِضِيْنَ عَنْهُ وَعَنْ رَسُوْلِهِ عَذَابًا أَلِيْمًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا، وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَتَمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْهِ وَهَدَاهُ صِرَاطًا مُسْتَقِيْمًا، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى    آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمً، أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ بِحِكْمَتِهِ قَضَى أَنَّ الْجَزَاءَ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ فِيْ الْخَيْرِ وَالشَّرِّ لِيَعْرِفَ الْعِبَادُ أَنَّهُ حَلِيْمٌ عَلِيْمٌ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ 
Segala puji bagi Allah Shubhanahu wa a’alla yang telah menyinari hati para hamba yang dikehendaki -Nya sehingga mengetahui tanda-tanda kebesaran -Nya dan keadilan dari ketetapan-ketetapan -Nya. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali hanya Allah Shubhanahu wa a’alla semata serta saya bersaksi bahwa Nabi Muhammadn adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan oleh Allah Shubhanahu wa a’alla kepada pemimpin para nabi, Nabi kita Muhammad n dan keluarganya, serta para sahabat dan kaum muslimin yang senantiasa mengikuti petunjuknya.

Hadirin rahimakumullah, Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala dengan memperbaiki dan meningkatkan amalan-amalan kita. Sesungguhnya, dengan berupaya memperbaiki dan meningkatkan amalannya, seorang hamba akan mendapatkan kebaikan dalam kehidupannya serta mendapatkan balasan yang besar dan berlipat-lipat dari Allah Shubhanahu wa ta’ala. Allah Shubhanahu wa ta’ala berfirman:
قال الله تعالى: ﴿قال الله تعالى: ﴿مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗامِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧﴾ [النحل : 97]  
“Barang siapa mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dan dia dalam keadaan beriman, sungguh Kami akan berikan kepada mereka kehidupan yang baik dan sungguh Kami akan beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih besar daripada amalan yang mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)

Dari ayat di atas, kita mengetahui bahwa Allah Shubhanahu wa ta’ala telah menetapkan kehidupan yang bahagia sebagai balasan dari amal saleh. Demikian pula, Allah Shubhanahu wa ta’lla tidak menjadikan balasan dari amal saleh dengan banyaknya harta atau yang semisalnya. Dengan demikian, bahagia dan tidaknya kehidupan seseorang tidaklah semata-mata tergantung pada banyak dan tidaknya dunia yang didapatnya. Dengan kekayaannya seseorang bisa melampaui batas. Sebaliknya, karena kemiskinannya seseorang bisa lupa dengan akhiratnya. Maka dari itu, seseorang harus memahami bahwa Allah Shubhanahu wa ta’ala telah menjadikan kebahagiaan itu akan didapatkan dengan amal saleh. Apabila seseorang mengisi hidupnya di dunia dengan amal saleh, dirinya akan mendapatkan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan serta balasan yang baik di dunia dan akhirat. Adapun orang yang berbuat kemaksiatan, balasannya disebutkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:
قال الله تعالى: ﴿ وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ ١٢٤ قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِيٓ أَعۡمَىٰ وَقَدۡ كُنتُ بَصِيرٗا ١٢٥ قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتۡكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَاۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمَ تُنسَىٰ ١٢٦ ﴾ [طه: 126 - 124]  
Dan barang siapa berpaling dari peringatan -Ku, sesungguhnya ia akan mendapat kehidupan yang sempit dan Kami akan kumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta. Ia berkata, “Ya Rabbku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami namun engkau melupakannya maka pada hari ini engkau pun dilupakan.” (Thaha: 124—126)

Jama’ah jum’ah rahimakumullah. Dalam ayat di atas kita mengetahui bahwa apabila seseorang memenuhi hidupnya dengan berbagai kemaksiatan, dirinya akan mendapatkan kehidupan yang sempit dan jauh dari ketenangan. Oleh karena itu, janganlah kita tertipu oleh gemerlapnya dunia yang melalaikan dari ketaatan kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala. Lalai mengingat Allah Shubhanahu wa ta’ala akan menjauhkan seseorang dari mendapatkan kebahagiaan meskipun kehidupannya penuh dengan kemewahan.
Hadirin rahimakumullah. Firman Allah Shubhanahu wa ta’ala di atas juga menunjukkan bahwa balasan seseorang sesuai dengan amalannya. Artinya, sebagaimana seseorang waktu di dunia tidak mau melihat peringatan Allah Shubhanahu wa ta’ala, maka pada kehidupan yang sesungguhnya di hari akhir nanti dia pun dibangkitkan dan dikumpulkan dalam keadaan buta. Begitu pula, sebagaimana saat di dunia dia melupakan peringatan Allah Shubhanahu wa ta’ala, pada hari akhir pun dia akan dilupakan serta dibiarkan dalam kesulitan dan siksa yang pedih.
Demikianlah. Dengan hikmah -Nya, Allah Shubhanahu wa ta’ala menetapkan bahwa balasan seseorang sesuai dengan perbuatannya. Banyak sekali dalil yang menunjukkan hal tersebut di samping ayat yang telah kita sebutkan. Di antaranya adalah apa yang disebutkan oleh sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا أَهْلَ الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاء » [رواه أبو داود]
 “Orang-orang yang memiliki sikap kasih sayang akan mendapatkan kasih sayang dari Allah Yang Maha Penyayang, (maka) berbuat kasih sayanglah kalian kepada yang ada di muka bumi (sehingga Allah) yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud disahihkan oleh al-Albani)

Dari hadits ini, kita mengetahui bahwa balasan seseorang sesuai dengan amalannya. Oleh karena itu, seorang muslim tentu akan senantiasa berbuat baik, beramal saleh, serta jauh dari berbuat kezaliman dan kemaksiatan. Dia akan menjadi orang yang mengasihi orang-orang yang lemah dari kalangan para wanita, fakir miskin, anak yatim, dan yang semisalnya serta tidak menyakiti mereka. Bahkan, terhadap hewan sekalipun, seorang muslim tidak sewenang-wenang terhadapnya karena dirinya menginginkan rahmat dan kasih sayang Allah Shubhanahu wa ta’ala, serta takut dari terkena azab -Nya. Oleh karena itu, untuk mendapatkan rahmat dan kasih sayang -Nya, seseorang juga harus mengasihi dan menyayangi hamba-hamba -Nya.
Adapun perbuatan zalim, baik menipu, mencuri, tidak menunaikan kewajiban kepada saudaranya, maupun yang semisalnya, akan mendekatkan dirinya dengan azab Allah Shubhanahu wa ta’ala.
Hadirin rahimakumullah. Di antara hadits yang juga menunjukkan bahwa balasan seseorang sesuai dengan amalannya adalah sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ » [رواه مسلم]

“Barang siapa menghilangkan kesempitan seorang mukmin dari kesulitan-kesulitan di dunia, Allah akan menghilangkan kesulitan yang menimpanya dari kesulitan-kesulitan di hari kiamat. Dan barang siapa yang meringankan seseorang yang sedang tertimpa kesulitan, Allah akan meringankan bebannya di dunia dan akhirat. Dan barang siapa yang menutup kejelekan seorang muslim, Allah akan menutup kejelekannya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan menolong seorang hamba apabila hamba tersebut menolong saudaranya. Dan barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan jalannya menuju ke surga.” (HR. Muslim)

Hadits ini sangat jelas menunjukkan bahwa balasan seseorang sesuai dengan amalannya. Maka dari itu, siapa di antara kita yang tidak ingin dimudahkan jalannya menuju surga? Siapa di antara kita yang tidak ingin ditutupi kejelekannya sehingga tidak diketahui orang lain? Siapa yang tidak ingin mendapatkan kemudahan dan dihilangkan dari kesulitan di hari akhir, kesulitan yang jauh lebih berat dari kesulitan apa pun yang menimpa seseorang saat di dunia?
Di saat seluruh manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar dalam keadaan tidak dikhitan, telanjang, dan tanpa alas kaki. Sementara itu, matahari didekatkan. Tidak ada tempat berteduh selain yang diberi naungan oleh Allah Shubhanahu wa a’alla. Saat itu, keadaan setiap orang menggambarkan perbuatannya saat di dunia. Ada yang tenggelam dengan keringatnya sampai ke mata kaki. Ada yang tenggelam sampai ke betis. Ada pula yang sampai setengah badannya, bahkan ada yang sampai ke telinganya.
Sungguh, siapa yang tidak membutuhkan pertolongan dan dihilangkan kesulitannya pada hari itu? Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya bersemangat dalam menuntut ilmu. Setiap muslim hendaknya menutup aib saudaranya dan tidak menjadikan kejelekan orang lain sekadar bahan pembicaraan tanpa bermaksud memperbaikinya. Begitu pula, setiap muslim hendaknya senantiasa berbuat baik dan peduli dengan keadaan orang lain. Dengan demikian, di saat orang lain membutuhkan pertolongan dan dia mampu membantunya, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berbuat baik kepadanya. Begitu pula ketika meminjami uang kepada saudaranya, hendaknya dia memberi kelonggaran, terutama ketika saudaranya telah berusaha namun belum mampu melunasinya. 
Hadirin rahimakumullah. Masih banyak lagi dalil-dalil yang menunjukkan bahwa balasan seseorang sesuai dengan perbuatannya. Mudah-mudahan yang sedikit ini bisa menjadi peringatan bagi kita.




Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً خَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كثيراً، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Marilah kita senantiasa memperbaiki hati kita dengan bertakwa kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala dan kembali kepada -Nya. Dengan bertakwa kepada -Nya, seseorang akan mendapatkan apa yang diidam-idamkan, berupa kehidupan yang bahagia dan penuh dengan ketenteraman serta jauh dari kegelisahan. Dengan senantiasa kembali kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala, baik dengan mengharapkan balasan -Nya dan takut dari azab -Nya maupun bertaubat dari kemaksiatan yang dilakukannya, seorang hamba akan mendapatkan kelapangan dada dan ketenangan serta kebahagiaan hidup. Adapun berpaling dari Allah Shubhanahu wa ta’ala, hal ini akan membuat hati menjadi berkarat sehingga tidak mengetahui mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya untuk dirinya.
Hadirin rahimakumullah, Oleh karena itu, marilah kita menjaga diri-diri kita agar tidak terjatuh dalam kemaksiatan kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala dan Rasul -Nya. Jika seseorang memenuhi hidupnya dengan berbagai kemaksiatan, dirinya akan mendapatkan kehidupan yang sempit dan jauh dari ketenangan. Dengan demikian, meskipun dalam pandangan manusia dia adalah seorang yang terpenuhi segala kebutuhan hidupnya, namun hatinya tidak merasakan kebahagiaan, bahkan selalu diliputi oleh kegelisahan, ketakutan, dan semisalnya. Oleh karena itu, untuk lari dari kesempitan, kesulitan, dan kegelisahan, kita dapatkan sebagian mereka mengonsumsi obat-obat terlarang, minum minuman keras, dan mencari hiburan-hiburan yang dipenuhi oleh berbagai kemaksiatan. Hal itu adalah balasan yang Allah Shubhanahu wa ta’ala timpakan kepada mereka di dunia. Adapun di akhirat nanti, mereka akan mendapatkan hukuman yang jauh lebih keras lagi.
Oleh karena itu, janganlah kita tertipu dengan gemerlapnya dunia yang melalaikan dari ketaatan kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala. Lalai mengingat Allah Shubhanahu wa ta’ala akan menjauhkan seseorang dari mendapatkan kebahagiaan meskipun kehidupannya penuh dengan kemewahan. Bahkan, di akhirat nanti akan merasakan hukuman yang lebih besar. Allah Shubhanahu wa ta’ala berfirman:
قال الله تعالى: ﴿ لَّهُمۡ عَذَابٞ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَشَقُّۖ وَمَا لَهُم مِّنَ ٱللَّهِ مِن وَاقٖ ٣٤ ﴾ [الرعد:34]  
“Bagi mereka azab dalam kehidupan di dunia dan sungguh hukuman di akhirat kelak lebih keras lagi dan tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari azab Allah.” (ar-Ra’d: 34)

Jama’ah jum’ah rahimakumullah. Seseorang yang mengetahui bahwa balasan seseorang sesuai dengan amalannya, tentu akan memanfaatkan saat hidupnya di dunia untuk berbuat baik dan beramal saleh serta tidak berbuat kejahatan dan kemaksiatan. Dia akan menjadi orang yang senang membantu dan meringankan beban saudaranya. Dia pun akan jauh dari sikap sombong, baik dalam bentuk menolak kebenaran maupun merendahkan orang lain. Bahkan, dia akan mudah memaafkan kesalahan orang terhadap dirinya apabila baik akibatnya karena dia tahu bahwa hal itu bukanlah suatu kehinaan namun justru suatu kemuliaan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ» [رواه مسلم ]

“Tidaklah sedekah akan membuat harta berkurang. Tidaklah Allah akan menambahkan pada seorang hamba karena memaafkan (saudaranya) selain (bertambah) kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan hatinya karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim)
Hadirin rahimakumullah. Akhirnya kita memohon kepada Allah Shubhanahu wa ta’ala dengan nama-nama -Nya yang husna dan sifat-sifat -Nya yang sempurna agar memudahkan kita semua memahami agama -Nya serta agar ikhlas dalam menjalankannya.

 Catatan Kaki:
Kami tidak mencantumkan doa pada rubrik “Khutbah Jumat” agar khatib yang ingin membaca doa memilih doa yang sesuai dengan keadaan masing-masing.

APAKAH DIBOLEHKAN MELUNASI HUTANGNYA DAN HUTANG SAUDARANYA DARI UANG JUDI?



Saya tahu bahwa uang judi itu haram. Pertanyaanku apakah dibolehkan menggunakannya untuk melunasi hutangku dan hutang saudara-saudaraku di bank. Saya sangat menjaga agar tidak dipergunakan untuk keperluan lainnya?

Alhamdulillah
Taruhan adalah salah satu bentuk perjudian. Harta yang didapat dengan cara seperti itu adalah harta buruk dan haram. Maka harus dihilangkan dengan diberikan kepada para fakir miskin atau jalan lain dari berbagai bentuk kebaikan. Seseorang  tidak dibolehkan memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Diharuskan bertaubat kepada Allah Ta’ala dari apa yang didapatkannya.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنْصَابُ وَالأَزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ (سورة المائدة: 90 ،91)
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari -mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maidah: 90-91)
Silahkan dilihat soal jawab no. 6476.
Dengan demikian, maka anda dibolehkan memberikannya kepada saudara anda agar dapat dimanfaatkan melunasi hutangnya atau membeli keperluannya jika mereka fakir. Sebagai tambahan silakan lihat soal jawab no. 81952, dan no. 129687.
Jika anda tidak memiliki uang untuk melunasi hutang anda, yang nampak adalah dibolehkan mengambil harta ini yang cukup untuk melunasinya. Ibnu Qayyim rahimahullah telah menjelaskan dengan panjang lebar tentang masalah menyingkirkan harta haram. Dia menyatakan bahwa untuk menyingkirkan harta semacam ini dan untuk kesempurnaan taubatnya adalah dengan mensodaqahkannya. Kalau dia membutuhkan, maka dibolehkan mengambilnya sesuai dengan keperluannya dan sisanya dishadaqahkan. (Silakan lihat, Zadul Ma’ad, 5/778)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Kalau wanita pelacur dan pelaku judi bertaubat, sementara mereka dalam kondisi fakir, dibolehkan mempergunakan harta ini sesuai dengan kebutuhannya. Kalau dia mampu untuk berdagang atau bekerja keterampilan seperti meminang dan memintal, maka diberikan modal untuknya.” (Majmu Fatawa, 29/308)
Wallahu’alam .

MEMBERIKAN HADIAH KEPADA SEBAGIAN WANITA PADA PERAYAAN NATAL



Diantara kebiasaan orang barat waktu natalan, sebagian non islam berkumpul. Baik besar maupun kecil. Mereka menulis nama-namanya dan ditaruh di kotak dan mengaduk kertas tersebut. Kemudian setiap orang memilih untuk nama orang lain untuk memberikan hadiah kepadanya di hari natal, yang mana biasanya dinamakan ‘Chris Kringle’. Sebagian wanita telah mengambil ide ini pada tahun kemarin dan telah mempraktekkannya. Mereka sekarang berkeinginan melakukannya pada akhir tahun ini. Semua urusan ini adalah bahwa setiap wanita memilih orang lain secara acak. Dan dia diharuskan membelikan hadiah seharga 20 dolar Amerika. Sebagian wanita meyakini hal ini menyerupai prilaku orang-orang kafir. Apakah ini benar?

Alhamdulillah
Apa yang dinasehatkan oleh sebagian para wanita bahwa prilaku ini tidak diperbolehkan adalah benar. Karena didalamnya menyerupai (orang kafir) dalam dua sisi,
Pertama, meramaikan perayaan ini adalah diharamkan dari sisi agama. Diantara hal itu adalah memberikan hadian dalam perayaan ini.
Kedua, meniru orang kafir dalam kebiasaan pada hari perayaannya di hari raya adalah bid’ah.
Dalam islam tidak ada hari raya melainkan hari raya iedul Firti dan Ied Adha. Dan apa yang dibuat baru hari raya selain keduanya, maka tidak (termasuk) apa-apa. Apalagi kalau hari raya agama untuk agama lain atau kelompok yang keluar dari islam. Dipersilahkan merujuk soal jawab no. 947.
Urusan ini juga membuka pintu bab tentang bid’ah. Hal ini termasuk dalam keumuman sabda beliau:
‘Barangsiapa yang membuat baru dalam perkara kami, yang tidak ada (contohnya), maka ia tertolak. HR. Bukhori, (As-Sulhi, 2499) dan muslim no. 1718
 Wallahu’alam .

ISLAMIC MEDITATION EBOOK